DPRD Minta Pemkab Bantul Garap Potensi Wisata Baru Manfaatkan Kelok 23

Ilustrasi, DPRD Bantul mendorong Pemkab tidak hanya mengandalkan Parangtritis dan Depok, tetapi juga memetakan potensi wisata baru memanfaatkan kelok 23.
Ujicoba pembukaan JJLS Kelok 23 penghubung Bantul - Gunungkidul. (ANTARA FOTO/HENDRA NURDIYANSYAH) Baca artikel CNN Indonesia "Melihat Kelok 23 Bantul-Gunungkidul, Punya Panorama Alam Memukau" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260917162935-269-1405090/melihat-kelok-23-bantul-gunungkidul-punya-panorama-alam-memukau. Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/

JOGJA, JOSS.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul didorong untuk tidak lagi berfokus penuh pada kawasan Pantai Selatan (Pansela) sebagai tumpuan utama pariwisata. Keberadaan akses infrastruktur baru menuju wilayah selatan, khususnya ruas Kretek-Girijati atau Kelok 23, dinilai harus dimanfaatkan secara optimal guna membuka potensi destinasi wisata lain di sekitarnya.

Anggota DPRD Bantul, Heru Sudibyo, menyampaikan bahwa peningkatan aksesibilitas menuju kawasan selatan seyogianya diimbangi dengan penyiapan daya tarik wisata di wilayah lintasan maupun area sekitar. Potensi pariwisata Bantul dinilainya tersebar di berbagai titik, tidak terbatas pada kawasan pesisir. Wilayah tengah, timur, barat, hingga jajaran pantai lainnya perlu dipetakan kembali untuk melihat peluang pengembangannya.

“Kehadiran 23 ini kan hanya sebagai pendukung, artinya harus benar-benar ditangkap sebagai peluang. Selama ini kan Bantul terkesan hanya mengandalkan pendapatan wisata dari dua pantai yakni Parangtritis dan Depok. Kawasan lain yang punya potensi bagaimana, itu daya tariknya apa yang bisa dikembangkan,” kata Heru, Jumat (25/9/2026).

Pentingnya Pemetaan dan Sinergi Tata Ruang

Legislatif mendorong Pemkab Bantul melakukan evaluasi menyeluruh serta pembahasan bersama guna memetakan potensi wisata yang dapat digarap dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang. Pemetaan terencana ini dinilai krusial agar pemerintah memiliki prioritas pengembangan yang jelas dan tidak sekadar membuka destinasi baru tanpa perhitungan matang.

Pembahasan tersebut juga wajib melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, terutama yang membidangi tata ruang. Hal ini mengingat sebagian kawasan potensial berbenturan dengan status tanah Sultan Ground (SG).

“Jangan sampai gegabah. Harus ada komunikasi dengan pihak Keraton Jogja,” ujarnya.

Pengembangan Berbasis Karakter Wilayah

Heru menyarankan agar pengembangan destinasi wisata tidak dilakukan serentak secara terburu-buru. Pemkab Bantul dapat menetapkan beberapa kawasan prioritas untuk dikembangkan dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan, sembari menyusun strategi jangka panjang.

Konsep pariwisata yang diusung pun perlu disesuaikan dengan karakteristik tiap wilayah tanpa harus dipaksakan menjadi destinasi wisata massal (mass tourism). Pemkab diimbau mempertimbangkan aspek lingkungan, kelestarian budaya lokal, serta aktivitas masyarakat setempat.

Langkah ini diharapkan dapat menjadikan infrastruktur Kelok 23 tidak sekadar berfungsi sebagai jalur penghubung ke kawasan selatan, melainkan menjadi penopang utama strategi pengembangan pariwisata Bantul secara meluas.

Baca Juga: Uji Coba Kelok 23 DIY Dimulai, Akses Umum Masih Dibatasi Maksimal Roda 4

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*