JOSS.CO.ID – Malone Lam, seorang warga negara Singapura berusia 22 tahun yang terakhir menetap di Miami, mengaku bersalah di Pengadilan Distrik AS di Washington D.C. Pengakuan ini terkait perannya sebagai pimpinan konspirasi kejahatan siber internasional yang memanfaatkan teknik social engineering untuk mencuri dan mencuci aset kripto senilai lebih dari $245 juta.
“If you build a cybercrime empire, we will find you, dismantle your operation, and hold you accountable,” kata Jaksa AS, Jeanine Ferris Pirro. “This defendant led an international network that preyed on victims through deception, invaded their privacy, and stole hundreds of millions of dollars in cryptocurrency. Working with our partners at the FBI and IRS-CI, we will continue to hunt down the criminals who weaponize technology to steal from innocent people.”
Di hadapan Hakim Pengadilan Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly, Lam mengaku bersalah atas satu dakwaan partisipasi dalam konspirasi RICO. Hakim menetapkan jadwal sidang penentuan status pada 8 Desember 2026. Berdasarkan dokumen pengadilan, kelompok kriminal ini beroperasi sejak Oktober 2023 hingga setidaknya Mei 2025.
Jaringan ini berkembang dari hubungan yang dibentuk di platform gim daring, beranggotakan individu yang tersebar di California, Connecticut, New York, Florida, hingga luar negeri.
Konspirasi RICO ini memanfaatkan social engineering dan sesekali melakukan pembobolan rumah untuk mengakses informasi yang digunakan untuk menguras dompet kripto para korban.
Lam, yang dikenal dengan julukan “Anne Hathaway,” “$$$,” dan “King Greavy,” bertindak mengorganisasi jaringan social engineering tersebut, menentukan target korban, serta mengoordinasikan peran para pelaku lainnya.
Para anggota dan kolega dalam konspirasi tersebut menggunakan hasil curian aset kripto untuk mendanai gaya hidup mewah. Pembelanjaan mereka mencakup layanan kelab malam hingga $500.000 per malam, tas mewah berharga puluhan ribu dolar yang dibagikan dalam pesta, jam tangan mewah seharga $100.000 hingga lebih dari $500.000, serta pakaian desainer bernilai puluhan ribu dolar.
Mereka juga menyewa rumah mewah di Los Angeles, Hamptons, dan Miami, menyewa jet pribadi, menyewa tim pengawal pribadi, hingga mengoleksi mobil mewah senilai $100.000 hingga $3.800.000.
Aparat penegak hukum menangkap Lam pada 18 September 2025 di rumah sewaannya di Miami.
Kasus ini ditangani oleh Kantor Jaksa AS untuk Distrik Columbia, FBI Field Office Washington, dan IRS-CI Field Office Washington D.C., dengan dukungan operasional dari kantor FBI dan Kantor Jaksa AS di wilayah Central District of California, Southern District of Florida, serta District of New Jersey. Penuntutan dipimpin oleh Asisten Jaksa AS Christopher R. Howland dan David Liss.
Baca Juga: Thailand Tegur Israel Soal Turis Bermasalah dan Bisnis Ilegal

Leave a Reply