
JOSS.CO.ID – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance melontarkan tudingan serius terhadap sebagian kalangan di pemerintahan Israel yang disebut berupaya membentuk opini publik Amerika demi memperpanjang konflik dengan Iran. Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang kembali memanas, meski sebelumnya Washington dan Teheran sempat membuka jalur diplomasi.
Dalam wawancara yang dirilis Rabu bersama podcaster konservatif Joe Rogan, Vance menegaskan bahwa tidak semua pihak di Israel memiliki sikap yang sama. Ia mengaku masih mempercayai sejumlah tokoh di pemerintahan negara tersebut. Namun, ia juga menyoroti adanya kelompok lain yang dinilai aktif memengaruhi persepsi publik di Amerika Serikat.
“who are manipulating and trying to change American public opinion to keep the war going on indefinitely”, ujar Vance dalam pernyataannya.
Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut. Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt pada Kamis mengatakan bahwa upaya memengaruhi opini publik oleh negara lain bukan hal baru dalam politik global. “I think the president would certainly agree that, yes, foreign countries certainly do try to persuade American public opinion,” katanya.
Dalam perbincangan di The Joe Rogan Experience, Vance juga menyebut adanya upaya sistematis untuk menggagalkan jalur diplomasi antara AS dan Iran. “I definitely think you have seen this very discreet, extremely well-funded campaign to try to derail the negotiation and try to derail the deal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa terdapat “exact evidence” bahwa beberapa pemimpin Israel “hate the deal”.
Pernyataan ini muncul setelah Amerika Serikat dan Iran pada bulan lalu menyepakati memorandum of understanding (MOU) yang membuka jalan bagi kelanjutan negosiasi resmi. Kesepakatan tersebut mencakup rencana gencatan senjata selama 60 hari—yang kini telah dibatalkan—serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, situasi di lapangan kembali berubah. Ketegangan di kawasan strategis itu meningkat, diikuti intensifikasi serangan militer AS terhadap Iran. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan Timur Tengah.
Vance sendiri terlibat langsung dalam proses diplomasi tersebut. Ia menghadiri perundingan di Pakistan pada April dan kemudian bertolak ke Swiss pada Juni untuk penandatanganan MOU. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kritik dari pemerintah asing bukanlah hal yang menjadi masalah utama.
“I don’t mind” what he described as “certain elements of the Israeli government” criticising the US position, adding that “foreign governments trying and influence the government all the time”.
Menurutnya, persoalan justru muncul ketika pengaruh asing itu memengaruhi pengambilan keputusan di dalam negeri. “What bothers me is actually when Americans allow, meaning American leadership allows, that influence to affect their judgement and to affect what they are advocating for,” tegasnya.
Komentar Vance ini menjadi bagian dari rangkaian kritik yang belakangan ia tujukan kepada Israel. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut tengah mencari jalan keluar konflik melalui kombinasi diplomasi dan tekanan militer.
Pada Juni lalu, Vance juga sempat mengingatkan para pemimpin politik Israel agar tidak menyerang sekutu terkuat mereka. Ia merespons kritik dari beberapa politisi Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Konflik antara Israel dan Iran sendiri telah berkembang luas sejak serangan bersama AS dan Israel pada Februari, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk. Eskalasi konflik bahkan meluas hingga Lebanon.
Bagi Israel, Iran dipandang sebagai ancaman eksistensial. Negara tersebut menuntut penghapusan total program nuklir dan rudal Iran, serta perubahan rezim di Teheran.
Dinamika politik domestik AS juga menunjukkan pergeseran. Dewan Perwakilan Rakyat pada Rabu menolak usulan untuk memangkas bantuan miliaran dolar kepada Israel. Voting berakhir dengan 314 suara menolak dan 104 mendukung. Sejumlah anggota Partai Demokrat mendukung penghentian bantuan, mencerminkan perubahan sikap dalam partai tersebut terhadap Israel.
Konflik Iran-Israel tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu perdebatan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Ke depan, arah kebijakan Washington akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara tekanan diplomatik, kepentingan strategis, dan dinamika politik domestik.

Leave a Reply