Indonesia Masuk Arena AI Global Lewat WAICO

Indonesia WAICO AI global jadi langkah strategis memperkuat posisi di persaingan teknologi dan ekonomi digital dunia.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, menandatangani kontrak sebagai anggota pendiri Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia Tiongkok di Shanghai pada 17 Juli 2026. Gambar melalui Airlangga Hartarto @airlangga_hrt

JOSS.CO.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi arena baru persaingan global, dan Indonesia mulai mengambil posisi lebih aktif di dalamnya. Tidak lagi sekadar menjadi pasar teknologi, pemerintah mendorong peran sebagai pemain utama dalam ekosistem digital internasional.

Langkah tersebut terlihat saat Indonesia bergabung dengan 28 negara lain dalam pembentukan World AI Cooperation Organization (WAICO) di Shanghai, China. Organisasi ini dirancang untuk memperkuat tata kelola AI global, termasuk mendorong kerja sama lintas negara, membangun standar etika, serta memastikan teknologi berkembang secara aman dan inklusif.

Keikutsertaan Indonesia dinilai strategis, terutama di tengah upaya China memperluas pengaruhnya dalam pengembangan AI di negara-negara Global South. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan ekonomi digital yang terus tumbuh, Indonesia menjadi salah satu pasar sekaligus mitra paling potensial di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam kerja sama internasional tetap berpijak pada kepentingan nasional. Pemerintah ingin memastikan bahwa transformasi digital tidak hanya menguntungkan pihak luar, tetapi juga memperkuat kapasitas dalam negeri.

Dalam kunjungannya ke China, Airlangga juga bertemu sejumlah perusahaan teknologi besar seperti ByteDance, Unitree, Deep Robotics, dan FiberHome. Pertemuan tersebut difokuskan pada peluang kerja sama di bidang AI, robotika, dan telekomunikasi, termasuk mendorong investasi dan transfer teknologi.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya ingin mengimpor teknologi, melainkan membangun ekosistem industri berteknologi tinggi secara mandiri. Upaya tersebut penting untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang, terutama dalam menghadapi era digital yang semakin kompetitif.

Di sisi lain, China melihat Indonesia sebagai mitra strategis dalam ekspansi global AI mereka. Di tengah rivalitas dengan Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara menjadi target utama ekspansi perusahaan teknologi China. Indonesia, dengan pasar internet yang besar dan terus berkembang, menawarkan peluang signifikan.

Salah satu daya tarik utama teknologi AI asal China adalah biaya yang lebih terjangkau. Model open-source seperti DeepSeek dan Qwen milik Alibaba menjadi pilihan menarik bagi pengembang karena lebih mudah diakses dan murah dibandingkan alternatif Barat. Meski dalam beberapa aspek teknologi Barat masih unggul, faktor biaya menjadi pertimbangan penting bagi startup dan perusahaan dengan anggaran terbatas.

Kondisi ini relevan dengan situasi di Indonesia, di mana adopsi AI masih tergolong rendah. Diperkirakan kurang dari 10 persen perusahaan teknologi di dalam negeri yang benar-benar mengimplementasikan AI dalam operasional mereka. Sebagian besar masih dalam tahap uji coba atau eksplorasi.

Investasi China tidak hanya fokus pada perangkat lunak, tetapi juga infrastruktur digital. Perusahaan seperti Alibaba, Huawei, dan Tencent telah lama membangun kapasitas cloud di Asia Tenggara. Bahkan, Tencent baru-baru ini meluncurkan wilayah cloud GPU di Indonesia serta menghadirkan solusi AI untuk perusahaan seperti J&T Express, Traveloka, dan GDP Venture.

Kolaborasi juga mulai merambah sektor publik. Teknologi AI digunakan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis melalui sistem yang mampu menghitung kehadiran siswa dan memperkirakan kebutuhan distribusi makanan. Selain itu, kerja sama di bidang kesehatan juga berkembang melalui laboratorium bersama untuk riset medis berbasis AI.

Dalam bidang pendidikan, pemerintah Indonesia mendorong kerja sama dengan institusi China, termasuk rencana pendirian kampus cabang Tsinghua University yang berfokus pada AI. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan talenta digital dan riset teknologi di dalam negeri.

Namun, tantangan domestik masih cukup besar. Indonesia belum memiliki kerangka regulasi AI yang terpadu dan kuat. Berbagai kementerian berjalan dengan inisiatif masing-masing, sementara roadmap nasional masih belum tuntas. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku industri dan investor.

Selain itu, keterbatasan jumlah peneliti, insinyur, serta pendanaan menjadi hambatan dalam mengembangkan teknologi AI secara mandiri. Pengembangan model AI skala besar membutuhkan sumber daya komputasi dan investasi yang tidak sedikit, sehingga banyak perusahaan lokal memilih menggunakan teknologi yang sudah tersedia.

Karena itu, isu transfer teknologi menjadi krusial. Pemerintah menekankan bahwa kerja sama internasional harus mampu meningkatkan kemampuan domestik, bukan sekadar memperluas ketergantungan pada teknologi asing.

Hubungan Indonesia dan China kini memasuki babak baru yang tidak lagi hanya bertumpu pada perdagangan atau proyek infrastruktur. Kolaborasi di bidang AI, cloud computing, dan pengembangan talenta digital menjadi fondasi baru kemitraan kedua negara.

Keberhasilan kerja sama ini akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memanfaatkan investasi yang masuk. Jika dikelola dengan baik, Indonesia berpeluang menjadi kekuatan baru AI di Asia Tenggara. Namun jika tidak, risiko menjadi sekadar pasar teknologi asing tetap membayangi.

Baca Juga:Kontroversi Daun Kelor Dilarang di Australia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*