
SEMARANG, JOSS.CO.ID – Pasar properti kelas atas di Kota Semarang menunjukkan daya tahan yang cukup kuat di tengah tekanan ekonomi global. Meski daya beli masyarakat secara umum mengalami perlambatan akibat kenaikan suku bunga dan inflasi, segmen hunian premium justru tetap bergerak dan menarik minat konsumen tertentu.
Fenomena ini terlihat dari langkah pengembang yang masih aktif menghadirkan produk baru di segmen atas. Salah satunya dilakukan PT Graha Perdana Indah (GPI) melalui kawasan Candigolf di wilayah Jangli, Kecamatan Candisari. Proyek ini kembali meluncurkan unit hunian terbaru di klaster Beverly Hills dengan rentang harga Rp2 miliar hingga Rp3 miliar.
General Manager Candigolf, Deny Yudanto, mengungkapkan bahwa pasar utama yang dibidik berasal dari kalangan profesional dan pengusaha muda. “Segmentasi Beverly Hills didomiinasi pengusaha maupun profesional dengan usia rata-rata 30-40 tahun. Kemudian, keluarga muda yang membutuhkan hunian dekat dengan pusat kota, privasi, keamanan terjaga, serta lingkungan yang premium,” jelas General Manager Candigolf, Deny Yudanto, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Deny, kehadiran klaster anyar ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk tetap kompetitif di pasar hunian kelas atas yang semakin padat. Ia menilai, banyak pengembang kini berlomba menawarkan konsep unik dan fasilitas unggulan, sehingga persaingan tidak hanya bertumpu pada harga.
“Kondisi ini menuntut Beverly Hills memiliki diferensiasi yang kuat dan mampu mengkomunikasikan nilai lebih yang dimiliki, sehingga tidak hanya bersaing dari sisi harga, tetapi juga kualitas hidup dan nilai investasi yang ditawarkan,” tandas Deny
Dalam beberapa tahun terakhir, tren hunian premium memang mengalami pergeseran. Konsumen tidak lagi sekadar mencari rumah sebagai tempat tinggal, tetapi juga mempertimbangkan faktor gaya hidup, keamanan lingkungan, hingga potensi kenaikan nilai aset dalam jangka panjang. Lokasi strategis di dekat pusat kota juga menjadi salah satu pertimbangan utama.
Klaster Beverly Hills di Candigolf mengusung konsep arsitektur American Classic. Desain yang dihadirkan menitikberatkan pada kenyamanan ruang yang efisien, sekaligus tetap memberikan kesan mewah. Deny menjelaskan bahwa hunian di kawasan ini dirancang tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai representasi gaya hidup modern.
Pengembang juga memperhatikan aspek detail dalam perencanaan, mulai dari kualitas bangunan, tata ruang, hingga privasi penghuni. Fasilitas penunjang seperti kolam renang, area barbeque, serta teknologi smart home system disematkan untuk meningkatkan kenyamanan dan efisiensi.
Dua tipe rumah ditawarkan dalam klaster ini, yakni tipe Franklin dan Rodeo. Tipe Franklin memiliki luas bangunan 145 meter persegi dengan luas tanah 98 meter persegi. Unit dua lantai ini dilengkapi empat kamar tidur, tiga kamar mandi, serta carport untuk dua kendaraan.
Sementara itu, tipe Rodeo hadir dengan ukuran lebih ringkas, yakni luas bangunan 112 meter persegi dan luas tanah 84 meter persegi. Hunian ini memiliki tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, serta tata ruang yang dirancang untuk memaksimalkan pencahayaan alami.
Kehadiran klaster Beverly Hills turut melengkapi pengembangan kawasan Candigolf yang memiliki luas sekitar 500 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai hunian terpadu dengan memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan dengan alam sekitar.
Deny tetap optimistis terhadap prospek pasar ke depan. Ia menilai sektor properti masih menjadi kebutuhan utama masyarakat, apalagi dengan dukungan kebijakan pemerintah yang dinilai mampu menjaga minat beli.
“Kebutuhan properti masih menjadi kebutuhan pokok saat ini, ditambah dengan berbagai kebijakan pemerintah, termasuk keberlanjutan insentif seperti PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk kategori tertentu dan ekspektasi suku bunga yang lebih kondusif. Faktor-faktor ini membantu menjaga daya beli masyarakat dan minat terhadap pembelian rumah masih positif,” imbuhnya.

Leave a Reply