Gramedia Jalma Semarang Jadi Ruang Baru Literasi

Gramedia Jalma Semarang hadir sebagai ruang baru literasi, tempat baca, kerja, dan komunitas yang nyaman di Jalan Pandanaran.

Gramedia Jalma Pandanaran Semarang mulai dilihat warga bukan hanya sebagai toko buku, melainkan sebagai tempat singgah yang menawarkan pengalaman berbeda. Kehadirannya memberi warna baru bagi pencinta bacaan, komunitas kreatif, hingga warga yang mencari ruang nyaman untuk bekerja atau sekadar beristirahat dari rutinitas kota.

Konsep yang diusung Gramedia Jalma berangkat dari gagasan membangun ruang yang lebih manusiawi dan lebih dekat dengan pengunjung. Community Specialist Gramedia Jalma Pandanaran, Pramudia Pamungkas, menjelaskan bahwa nama Jalma diambil dari kata “jalma” yang berarti manusia dalam bahasa Sunda. Menurut dia, pembeda utama konsep ini adalah interaksi yang lebih organik antara pengunjung dan ruang yang mereka datangi.

“Kalau di toko buku biasa orang datang mencari buku, di sini kami juga berusaha memberikan rekomendasi bacaan yang serupa dan membangun interaksi yang lebih organik dengan pengunjung,” ujar Pramudia di sela Grand Opening, Jumat (24/7/2026).

Bagi warga Semarang, konsep itu terasa relevan. Di tengah minimnya ruang baca yang buka hingga malam atau tetap aktif saat akhir pekan, Gramedia Jalma menjadi pilihan yang dianggap lebih fleksibel. Sejumlah pengunjung menyebut tempat ini bisa menjadi solusi ketika perpustakaan kota tutup pada sore hari atau libur di akhir pekan.

Salah satunya disampaikan Hafifah (26), warga Semarang Utara yang juga tergabung dalam Semarang Book Club. Ia mengaku sering kesulitan mencari tempat membaca dan bekerja yang nyaman tanpa harus terus-menerus mengandalkan kafe. Baginya, kehadiran Gramedia Jalma memberi alternatif yang lebih hemat dan lebih tenang.

“In this economy, kerja di kafe tiap hari boros, jadi working space di Jalma ini bisa jadi alternatif. Selain itu, ada moment pengen baca buku sambil ngadem pas libur, tapi perpustakaan juga libur kaya jam kerja PNS, untungnya sekarang ada Jalma,” ujar Hafifah.

Ia juga menilai suasana baru di Gramedia Jalma membuat aktivitas membaca terasa lebih menyenangkan. Hafifah mengaku pernah ikut Baca Senyap di tempat itu bersama komunitas literasi yang diikutinya. Menurut dia, pengalaman membaca di ruang yang adem dan ramai oleh sesama pencinta buku memberi nuansa baru dibanding berkegiatan di ruang publik lain yang lebih padat.

“Jadi seru ketemu orang yang sama-sama suka baca, tapi dengan suasana baru, adem, tanpa harus panas-panasan di Taman Indonesia Kaya biasanya,” bebernya.

Sejak pembukaan hingga grand opening, Gramedia Jalma disebut sudah menggelar sejumlah kegiatan komunitas. Salah satu program yang dikembangkan adalah Klub Buku Jalma, yang dirancang untuk mempertemukan pembaca, penulis, dan komunitas dalam satu ruang percakapan. Kegiatan perdananya dikemas melalui Ruang Temu Jalma yang menghadirkan penulis puisi asal Semarang, Jinawi Rana, sekaligus menampilkan instalasi seni.

Selain itu, Gramedia Jalma juga menjalin kolaborasi dengan Bersukaria melalui kegiatan berkeliling Kota Semarang. Sejumlah nama penulis yang pernah hadir di sana antara lain JS Khairen, Ahmad Fuadi, Dee Lestari, hingga Fahruddin Faiz. Dalam waktu dekat, Ayu Utami dijadwalkan hadir dalam rangkaian kegiatan di Gramedia Jalma.

Pramudia menyebut pihaknya juga tengah menyiapkan kegiatan pemutaran film yang akan melibatkan komunitas. Untuk program baca senyap yang sudah sempat digelar, konsep tersebut masih terus dieksplorasi agar bisa dilakukan secara berkala. Menurut dia, kebutuhan ruang seperti ini memang semakin besar di kota yang aktivitas sosialnya terus bergerak cepat.

“Di Semarang banyak pilihan tempat berkumpul seperti kafe dan mal. Jalma hadir dengan ruang yang berbeda karena orang bisa nongkrong, bekerja, membaca, dan berdiskusi dalam satu tempat,” katanya.

Respons pengunjung pun menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Anggi (29) dan Dina (30), pelanggan setia Gramedia, mengaku sudah lama menantikan kehadiran Gramedia Jalma di Semarang. Keduanya melihat transformasi toko buku itu sebagai langkah yang membuat Gramedia terasa lebih dekat dengan kebutuhan pengunjung masa kini.

“Ini Gramedia Jalma kedua di Indonesia, jadi otomatis ini sesuatu yang sangat kunantikan. Pertama kaget sama transformasinya yang dulu cuma rak buku, sekarang rak ditata jadi lebih humanis. Ada work space-nya dan tempat baca,” kata Anggi.

Dina menambahkan bahwa membaca buku menjadi cara mereka melepas tekanan pekerjaan. Ia menilai ruang seperti Jalma memberi kesempatan bagi orang untuk berhenti sejenak, lalu kembali dengan kepala yang lebih segar.

“Buat aku baca buku itu ngilangin stres. Stres dari kerja dan healing sama diri sendiri,” imbuh Dina.

Kehadiran Gramedia Jalma menandai perubahan cara toko buku memosisikan diri di tengah kota. Bukan lagi sekadar etalase bacaan, tempat ini mulai menjalankan fungsi yang lebih luas: ruang temu, ruang kerja, ruang baca, dan ruang lahirnya gagasan. Dalam konteks Semarang, kehadiran ruang semacam ini berpotensi menjadi penopang ekosistem literasi sekaligus tempat berkumpul yang lebih sehat bagi komunitas kota.

Baca Juga: Gramedia Jalma Semarang Jadi Destinasi Baru Pecinta Buku dan Komunitas

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*