Kasus HIV di Semarang Masih Tinggi, Dipicu Seks Berisiko dan Stigma

Ilustrasi, Kasus HIV di Semarang masih tinggi akibat perilaku seks berisiko, rendahnya tes kesehatan, dan stigma masyarakat. Edukasi dan VCT jadi solusi utama.

Kasus HIV di Semarang masih tinggi akibat perilaku seks berisiko, rendahnya tes kesehatan, dan stigma masyarakat. Edukasi dan VCT jadi solusi utama.

JOSS.CO.ID – Kasus HIV di Semarang masih menjadi perhatian serius karena dipengaruhi perilaku seksual berisiko, rendahnya kesadaran pemeriksaan kesehatan, serta stigma yang masih kuat di masyarakat.

Komunitas pendamping orang dengan HIV, PEKA Semarang, menilai kondisi ini membuat banyak orang enggan mengetahui status kesehatannya sejak dini. Padahal, deteksi awal sangat penting untuk mencegah penularan lebih luas.

Koordinator PEKA Semarang, Dwi Hariyanto, mengatakan tingginya kasus HIV di Semarang tidak hanya dipengaruhi perilaku individu, tetapi juga faktor lingkungan, termasuk mudahnya akses terhadap praktik prostitusi.

“Semakin tingginya kasus HIV di Kota Semarang ya karena lifestyle-nya mereka. Di Kota Semarang itu ada pasarnya. Mau yang murah ada, yang menengah ada, sampai yang elite juga ada.”

“Ketika orang penasaran, mereka bisa mengarah ke situ,” ujarnya saat ditemui pada Minggu (28/6/2026).

Perilaku Seks Berisiko Meningkat

Berdasarkan pendampingan PEKA di lapangan, perilaku seksual berisiko kini juga mulai ditemukan pada kelompok usia remaja. Fenomena ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus HIV di Semarang.

“Saya pribadi sering mendengar cerita pendamping bahwa sudah ada anak SMA bahkan SMP yang membeli jasa seks. Tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada transpuan. Itu benar-benar terjadi,” katanya.

Selain itu, masih banyak masyarakat yang tidak menggunakan alat pelindung saat berhubungan seksual, yang memperbesar risiko penularan HIV.

“Kalau melakukan hubungan seksual dengan menggunakan kondom, tingkat penularannya sangat kecil. Orang yang sudah paham biasanya justru tidak mau melakukan hubungan seksual tanpa pengaman,” ujarnya.

Rendahnya Kesadaran Tes HIV

Masalah lain dalam penanganan kasus HIV di Semarang adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV atau voluntary counseling and testing (VCT), terutama bagi mereka yang merasa tidak berisiko.

“Yang menjadi pekerjaan rumah adalah pelanggan-pelanggan mereka. Mereka tidak pernah peduli dengan faktor risiko maupun kesehatannya sehingga tidak pernah melakukan pemeriksaan,” katanya.

Menurut Dwi, tingginya temuan kasus pada kelompok berisiko justru menunjukkan bahwa program penjangkauan berjalan efektif.

“Kelompok yang dijangkau memang laki-laki seks dengan laki-laki, waria, dan pekerja seks perempuan. Mereka dikumpulkan, diberi edukasi, lalu diajak melakukan VCT supaya kasusnya cepat ditemukan,” ujarnya.

Tantangan Pengobatan dan Stigma

Dalam pendampingannya, PEKA juga menemukan masih banyak pasien yang menghentikan terapi antiretroviral (ARV), yang seharusnya dijalani secara rutin.

“Alasan paling banyak karena mereka merasa masih sehat. Ada juga yang takut ketahuan keluarga atau pasangan saat minum obat,” katanya.

Untuk itu, PEKA aktif menelusuri pasien yang berhenti menjalani pengobatan.

“Kami mencari pasien yang lost to follow up. Tujuannya supaya mereka sehat dan tidak menularkan ke orang lain,” ujarnya.

Di sisi lain, stigma dan kesalahpahaman tentang HIV masih menjadi hambatan besar dalam penanganan kasus HIV di Semarang.

“HIV tidak menular lewat jabat tangan, berbagi alat makan, menggunakan toilet bersama, atau digigit nyamuk. Itu semua hoaks,” katanya.

“Stigma dan diskriminasi paling besar bukan soal penularannya, tetapi bagaimana mereka mendapatkan virus HIV itu,” ujarnya.

Dorongan Edukasi dan Pemeriksaan Dini

Untuk menekan kasus HIV di Semarang, PEKA mendorong masyarakat agar lebih terbuka terhadap pemeriksaan kesehatan, terutama bagi yang pernah memiliki faktor risiko.

“Kalau merasa pernah berisiko atau pernah melakukan hubungan seksual minimal satu kali, lebih baik melakukan VCT. Kita tidak pernah tahu riwayat kesehatan pasangan sebelumnya,” katanya.

PEKA juga berharap pemerintah memperkuat edukasi kesehatan seksual, memperluas akses layanan VCT, serta mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV agar penanganan bisa lebih efektif dan menyeluruh.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS Semarang Tertinggi di Jateng 2025

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*