Kasus HIV/AIDS Semarang Tertinggi di Jateng 2025, Capai 620 Kasus

Kasus HIV/AIDS di Kota Semarang tertinggi di Jawa Tengah pada 2025 dengan 620 kasus. Dinkes sebut deteksi dini makin luas.

Kasus HIV/AIDS di Kota Semarang tertinggi di Jawa Tengah pada 2025 dengan 620 kasus. Dinkes sebut deteksi dini makin luas.

SEMARANG, JOSS.CO.ID – Kota Semarang menjadi daerah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Tengah berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025. Jumlah kasus yang tercatat mencapai 620 kasus sepanjang tahun tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menjelaskan bahwa kelompok dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) sebesar 44 persen. Selain itu, kasus juga ditemukan pada pasien Tuberkulosis (TBC) sebesar 12 persen, pasangan risiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen, pasien infeksi menular seksual (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks 2 persen.

Pada periode Januari hingga Mei 2026, ditemukan sebanyak 240 kasus HIV baru di Kota Semarang. Meski angka ini terlihat meningkat, Dinas Kesehatan menegaskan bahwa hal tersebut tidak selalu menunjukkan peningkatan penularan.

“Saat ini HIV sudah dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan HIV,” kata Hakam, Rabu (3/6/2026).

“Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu berarti penularan HIV meningkat,” ucap Hakam.

Menurutnya, tingginya angka temuan justru menunjukkan bahwa layanan pemeriksaan dan deteksi dini semakin menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum terdata.

“Justru hal ini menunjukkan bahwa layanan skrining semakin menjangkau kelompok yang sebelumnya belum terdeteksi,” kata dia.

Hakam menambahkan bahwa deteksi dini sangat penting untuk mempercepat penanganan dan menekan risiko penularan di masyarakat.

“Semakin banyak masyarakat yang melakukan tes HIV, maka semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan risiko penularan dapat dicegah,” lanjutnya.

Baca Juga: Dukung Pengembangan Praktik Profesi Apoteker, UNDIP Resmikan Apotek Pendidikan DipoCare

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*