Kepala WHO menyebut “pekerjaan belum selesai” setelah evakuasi MV Hondius akibat wabah hantavirus, risiko global dinilai rendah namun tetap dipantau.
WHO: Penanganan Hantavirus Belum Usai
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan bahwa penanganan wabah hantavirus belum berakhir meskipun proses evakuasi dari kapal pesiar MV Hondius telah dilakukan. Ia menyatakan bahwa “our work is not over” dalam upaya mengendalikan penyebaran virus tersebut.
Wabah ini menjadi perhatian internasional setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus langka tersebut. Hingga kini, hantavirus diketahui belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.
Risiko Global Dinilai Rendah
Meski menimbulkan kekhawatiran, WHO menekankan bahwa risiko kesehatan masyarakat global masih tergolong rendah. Tedros menyampaikan bahwa “There is no sign that we are seeing the start of a larger outbreak” dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez di Madrid.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa situasi masih bisa berkembang. “But of course the situation could change, and given the long incubation period of the virus, it’s possible we might see more cases in the coming weeks,” ujarnya.
Evakuasi dan Protokol Kesehatan
Lebih dari 120 penumpang dan awak kapal MV Hondius telah dievakuasi dari Kepulauan Canary, Spanyol, pada Minggu dan Senin. Setiap negara menerapkan kebijakan berbeda terhadap warganya yang kembali, meskipun sebagian besar mengikuti pedoman WHO.
Protokol tersebut mencakup karantina selama 42 hari dan pemantauan ketat terhadap individu yang berisiko tinggi. Tedros juga berharap negara-negara tetap mematuhi anjuran WHO. “I hope they (countries) will follow the advice and recommendations we are making,” katanya.
Respons Amerika Serikat
Sebanyak 18 warga Amerika Serikat yang berada di kapal telah dipulangkan dan kini dipantau di fasilitas medis di Nebraska dan Georgia. Pejabat CDC, Jay Bhattacharya, menilai situasi ini tidak perlu disikapi secara berlebihan.
Ia mengatakan tidak masuk akal untuk membunyikan “a five-alarm fire bell” karena risiko hantavirus jauh lebih rendah dibandingkan pandemi COVID-19. “It’s very different than COVID, and we should treat it differently than COVID,” ujarnya dalam wawancara dengan CBS.
Tantangan Diplomatik dan Solidaritas Global
Kasus MV Hondius juga memicu ketegangan diplomatik. Cape Verde menolak menerima kapal tersebut, sehingga sempat terkatung di lepas pantai sebelum akhirnya Spanyol mengizinkan evakuasi di Kepulauan Canary.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan pentingnya solidaritas internasional dalam menghadapi krisis kesehatan global. Ia menyatakan bahwa “world does not need more selfishness or more fear. What it needs are countries that show solidarity and want to step forward.”
Situasi ini menjadi pengingat bahwa koordinasi global tetap krusial dalam menghadapi potensi wabah, meskipun tingkat risikonya saat ini masih terkendali.

Leave a Reply