Warga Binaan Lapas Tangerang Produksi Beton dari Limbah Batu Bara

72 warga binaan Lapas Kelas I Tangerang produksi ratusan ribu beton dari limbah batu bara PLTU, mulai paving block hingga modul rumah berkualitas tinggi.
Foto: kumparan

72 warga binaan Lapas Kelas I Tangerang produksi ratusan ribu beton dari limbah batu bara PLTU, mulai paving block hingga modul rumah berkualitas tinggi.

JOSS.CO.ID – Sebanyak 72 warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang terlibat dalam program produksi material konstruksi berbahan limbah pembakaran batu bara yang diberi nama Jawara Beton. Program ini mampu menghasilkan ratusan ribu produk beton setiap bulan, mulai dari paving block hingga bataton.

Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, menjelaskan program tersebut berawal dari inisiasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama PLN untuk memanfaatkan limbah pembakaran batu bara dari PLTU menjadi produk bernilai ekonomi.

“Ini inisiasi awalnya dari Pak Menteri bertemu dengan Dirut PLN. Mereka punya sumber limbah pembakaran batu bara di PLTU, lalu kita manfaatkan menjadi produk konstruksi yang bernilai ekonomi,” kata Beni di Lapas Kelas I Tangerang, Selasa (26/5).

Melalui workshop tersebut, warga binaan memproduksi berbagai kebutuhan konstruksi seperti paving block, bataton press, modul rumah, u-ditch, tetrapod atau pemecah ombak, pagar panel precast, hingga roster.

Dalam satu bulan, total produksi mencapai ratusan ribu unit dengan pemanfaatan sekitar 273 ton limbah sebagai bahan baku. Untuk paving block, kapasitas produksi mencapai sekitar 220 ribu keping per bulan atau setara 5 ribu meter persegi. Sementara bataton press diproduksi hingga 90 ribu keping per bulan atau sekitar 3 ribu unit per hari. Modul rumah bahkan ditargetkan mampu mencapai 20 unit tipe 36 per bulan.

“Jadi satu bulan itu campuran produknya bisa ratusan ribu,” ujar Beni.

Produk Jawara Beton juga telah digunakan di sejumlah proyek. Bataton press dipakai di Summarecon Bekasi, sementara modul rumah dimanfaatkan untuk pembangunan rumah ASN di Cikarang Barat dan Cikarang Pusat. Selain itu, produk tetrapod mulai dilirik Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“KKP sudah tertarik dengan produk pemecah ombak, terutama yang ukuran dua ton. Bulan depan kami mulai produksi yang besar,” katanya.

Meski dijual sekitar 10 persen lebih murah dibanding harga pasaran karena berbahan limbah, kualitas produk tetap bersaing. Untuk paving block, mutu beton mencapai K-300 dan secara rutin diuji di Laboratorium WIKA.

“Jadi sudah bisa berdaya saing dengan produk-produk di luar. Kita tes kekuatannya rutin,” ucap Beni.

Program ini diikuti oleh 72 warga binaan yang dipilih melalui proses asesmen minat, seleksi, dan pelatihan teknis. Mereka mendapatkan pelatihan dari PLN, WIKA, hingga HSP Academy, termasuk penerapan sistem training of trainers (TOT).

“Yang pertama asesmen minat, lalu diseleksi lagi. Setelah itu dilatih dan ada TOT dari warga binaan yang sudah punya keahlian,” kata Beni.

Selain pelatihan, peserta juga memperoleh premi produksi. Untuk paving block, premi diberikan sebesar Rp 2.000 per tray. Sebanyak 50 persen dapat diambil langsung, sementara sisanya ditabung melalui Bank BRI.

Salah satu peserta program, Serbo atau Abu (37), mengaku program tersebut membuat warga binaan lebih produktif.

“Tugas saya merakit pembesian sekaligus membuat rangka buat coran beton,” ujar Abu.

Ia menilai kegiatan ini membantu mengurangi kejenuhan selama masa pembinaan.

“Jadi warga binaannya enggak jenuh karena ada kegiatan,” katanya.

Selama mengikuti program, Abu mengaku memperoleh premi sekitar Rp 800 ribu per bulan dan telah menabung hingga Rp 2 juta.

“Nanti kalau bebas buat modal usaha,” kata Abu.

Ia juga menilai penggunaan beton pracetak mempercepat proses pembangunan.

“Kalau yang biasanya seminggu, pakai ini tiga hari tiang-tiangnya sudah berdiri,” tuturnya.

Baca Juga: Proyek Giant Sea Wall Pantura Diprioritaskan, Target Konsep Rampung 2027

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*