
Beberapa prodi akan ditutup Kemdiktisaintek yang tidak relevan dan fokus pada 8 industri strategis nasional untuk dorong pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.
JOSS.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana menutup sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan industri strategis nasional.
Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan lulusan perguruan tinggi dengan arah pembangunan ekonomi Indonesia yang kini berfokus pada delapan sektor utama, yakni kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim.
“Yang kedua, ada strategi market driving yang saya sampaikan tadi, ada 8 industri strategis yang perlu digagas, perlu ditumbuhkan, kalau bisa tumbuhnya tuh di atas 12-15%,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026 dikutip dari YouTube Kemendukbangga, Senin (27/4/2026).
Sejumlah Prodi Akan Ditutup
Untuk mendukung kebutuhan industri tersebut, Kemdiktisaintek akan mengevaluasi dan menutup prodi yang dianggap tidak relevan.
“Mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri.
Menurutnya, langkah ini penting agar perguruan tinggi dapat mengembangkan program studi baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
“Cara bagaimana? Program studinya yang disesuaikan. Program studinya yang perlu dikembangkan untuk prodi-prodi baru yang sesuai dengan delapan industri strategi tadi,” katanya.
Kampus Diminta Tinggalkan Pola Market-Driven
Badri juga menyoroti pola yang selama ini digunakan kampus dalam membuka prodi, yakni berbasis tren pasar atau market-driven.
“Saat ini perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebagian besar itu mengunakan market-driven. Market-driven itu apa? Yang lagi laris apa, dibuka prodinya,” katanya.
Ia meminta para pimpinan perguruan tinggi untuk mulai berani menutup prodi yang tidak lagi relevan.
“Nah tentu perlu ada kerelaan dari masing-masing rektor, untuk melakukan kajian itu, disesuaikan agar prodinya itu relevan gitu, ada kebijakan yang nantinya akan kita keluarkan misalnya program interdisipliner atau major minor,” katanya.
8 Sektor Strategis Jadi Penggerak Ekonomi
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa delapan sektor strategis menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi berbasis sains dan teknologi.
“Sektor penting yaitu 8 prioritas sektor strategis nasional, meliputi energi, pertahanan, digitalisasi–yaitu kecerdasan buatan dan semikonduktor, kemudian hilirisasi, dan industrialisasi, kesehatan, pangan, maritim, material dan manufaktu maju,” kata Fauzan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di ITB.
Kebijakan ini juga melibatkan kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat integrasi antara riset, industri, dan ekonomi nasional.
“Sehingga terjadi integrasi antara sains dan teknologi dan industri, untuk perekonomian,” kata Fauzan.
LPDP Siapkan SDM Industri Strategis
Sebagai bagian dari strategi besar, pemerintah juga meluncurkan Beasiswa STEM Industri Strategis 2026 melalui LPDP.
Program ini fokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul di delapan sektor utama, serta bidang pendukung seperti kebijakan publik, hukum, bisnis, ekonomi, hingga kewirausahaan dan industri kreatif.
Analisis Prodi yang Berpotensi Terdampak
Seiring kebijakan ini, sejumlah program studi diperkirakan akan dievaluasi ketat hingga berpotensi ditutup atau dilebur, terutama yang tidak selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
Beberapa di antaranya:
– Administrasi perkantoran konvensional, yang berpotensi tergantikan otomatisasi dan AI
– Ilmu sosial dan humaniora murni tanpa integrasi teknologi atau data
– Manajemen bisnis umum tanpa spesialisasi industri strategis
– Teknik manufaktur tradisional yang belum mengadopsi teknologi material maju atau robotika
Transformasi ini diharapkan mendorong kampus untuk menghadirkan program studi yang lebih adaptif, interdisipliner, dan relevan dengan kebutuhan industri modern di Indonesia.

Leave a Reply