Angka Kelahiran Korea Selatan Mulai Naik Setelah Lama Turun

Angka kelahiran Korea Selatan mulai naik setelah lama menurun. Kebijakan pemerintah dan perubahan pola pikir jadi faktor utama peningkatan ini.
Seorang wanita mendorong kereta bayi saat mengunjungi pasar bayi di Seoul, Korea Selatan. (Foto arsip: AFP/Jung Yeon-je)

Angka kelahiran Korea Selatan mulai naik setelah lama menurun. Kebijakan pemerintah dan perubahan pola pikir jadi faktor utama peningkatan ini.

JOSS.CO.ID – Korea Selatan mulai menunjukkan tanda pemulihan dalam angka kelahiran setelah bertahun-tahun mengalami penurunan tajam. Meski masih tergolong rendah secara global, tren terbaru memperlihatkan adanya peningkatan jumlah bayi yang lahir di negara tersebut.

Kim Su-jin dan suaminya menjadi bagian dari gelombang kecil pasangan muda Korea Selatan yang memutuskan memiliki anak di tengah kekhawatiran ekonomi dan sosial. Perempuan berusia 32 tahun yang bekerja sebagai freelancer di industri musik itu melahirkan anak perempuannya pada Januari tahun lalu, setelah sempat ragu selama empat tahun pernikahan.

Korea Selatan diketahui memiliki salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia. Pemerintah pun telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendorong warganya memiliki anak serta mengurangi dampak dari populasi yang terus menyusut.

Meski belum mampu membalikkan tren secara signifikan, data terbaru menunjukkan adanya peningkatan. Pada Februari lalu, hampir 23.000 bayi lahir, menjadi angka tertinggi untuk bulan tersebut dalam tujuh tahun terakhir. Kementerian statistik mencatat pertumbuhan tahunan mencapai 13,6 persen, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1981.

Peningkatan ini juga sejalan dengan naiknya angka pernikahan sejak pertengahan 2022. Para ahli menilai perubahan sikap generasi muda terhadap keluarga menjadi salah satu faktor pendorong.

Profesor ekonomi Seoul National University, Hong Sok-chul, menyebut kebijakan pemerintah cukup efektif. Ia mengatakan, “Rather than trying to force marriage or childbirth … the government focused on lowering the direct and indirect costs to make these choices more rational,”.

Dukungan pemerintah memang cukup beragam, mulai dari bantuan langsung saat kelahiran hingga subsidi perawatan anak. Kim Woo-jin, seorang pekerja kantoran berusia 33 tahun, mengakui manfaat tersebut.

Ia mengatakan, “played a significant role in alleviating the financial burden” serta menambahkan, “I believe that the significant improvements (in state support) … played a role in the recent rebound”.

Namun, tidak semua pasangan merasakan dampak signifikan dari insentif tersebut. Kim Su-jin menilai bantuan pemerintah masih belum cukup untuk mengatasi persoalan mendasar.

Ia mengatakan, “in reality … provides little substantial assistance”. Ia juga menambahkan, “The issue is not merely a matter of a few million won,” dengan menyoroti tingginya biaya pendidikan, perundungan di sekolah, serta ancaman kehilangan pekerjaan akibat kecerdasan buatan.

Dari sisi data, tingkat fertilitas Korea Selatan memang naik dari 0,75 menjadi 0,8 tahun lalu. Namun angka ini masih jauh di bawah batas ideal 2,1 untuk menjaga stabilitas populasi.

Sebagian analis menilai kenaikan ini juga dipengaruhi faktor demografis, yakni generasi besar yang lahir pada awal 1990-an kini memasuki usia produktif untuk memiliki anak. Selain itu, stigma terhadap kelahiran di luar pernikahan juga mulai berkurang, meski porsinya masih kecil, yakni 5,8 persen pada 2024.

Meski tren ini dianggap positif, para ahli mengingatkan bahwa peningkatan tersebut belum tentu berkelanjutan. Profesor Hong menegaskan, “continued aggressive policy support will be necessary”, serta menambahkan, “the current rebound, while positive, is still insufficient for long-term population replacement”.

Dengan berbagai faktor yang saling memengaruhi, masa depan demografi Korea Selatan masih menjadi tantangan besar, meskipun secercah harapan mulai terlihat dari kenaikan angka kelahiran dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: 11 Bayi Dititipkan di Rumah Bidan Sleman, BKKBN Soroti Krisis Pengasuhan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*