
Oracle mem-PHK 30.000 karyawan di berbagai negara untuk membebaskan kas hingga Rp170 triliun demi pendanaan pusat data AI dan infrastruktur cloud. Kebijakan ini berdampak pada 18–19% tenaga kerja global.
JOSS.CO.ID – Raksasa teknologi Oracle melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 30.000 karyawan di seluruh dunia. Pemberitahuan efisiensi tersebut dikirim kepada puluhan ribu karyawan melalui email pada pagi hari tanpa pemberitahuan sebelumnya. Restrukturisasi ini diambil perusahaan yang dipimpin oleh Larry Ellison untuk memfokuskan sumber daya finansial pada pengembangan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) dan pusat data berkapasitas besar.
Pemangkasan tersebut berdampak pada sekitar 18–19% dari total tenaga kerja global Oracle. Kebijakan efisiensi ini diperkirakan bakal membebaskan arus kas hingga US$8–10 miliar atau sekitar Rp170 triliun, yang kemudian dialokasikan untuk operasional dan pembangunan pusat data AI milik perusahaan. Langkah ini menunjukkan bahwa Oracle memilih mengalihkan belanja untuk gaji karyawan menjadi investasi infrastruktur AI yang padat modal.
Karyawan yang terdampak di Amerika Serikat, India, Kanada, hingga Meksiko dilaporkan menerima email pemberitahuan pada Selasa pukul 06.00 waktu setempat. Email tersebut dikirimkan oleh pihak manajemen dengan tajuk “Oracle Leadership”. “Setelah mempertimbangkan kebutuhan bisnis Oracle saat ini, kami telah mengambil keputusan untuk menghapus peran Anda sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas,” tulis email tersebut dikutip dari Business Insider, Kamis (2/4/2026). Dalam surat itu, manajemen Oracle juga menegaskan bahwa hari pengiriman email tersebut menjadi hari kerja terakhir bagi staf yang bersangkutan. Perusahaan langsung menonaktifkan akses komputer, email, hingga dokumen kantor bagi karyawan terdampak.
Baca Juga: Kacamata AI Ray-Ban Meta Rp8 Jutaan Resmi Rilis
Pihak manajemen menyebutkan bahwa karyawan akan mendapatkan paket pesangon sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Efisiensi ini terjadi di tengah ambisi besar Oracle untuk memperkuat infrastruktur cloud dan AI secara global, termasuk kerja sama dengan sejumlah pemain besar di sektor teknologi. Di saat yang sama, perusahaan juga menghadapi tekanan investor terkait utang besar yang digunakan untuk membiayai ekspansi pusat data AI.
Meskipun melakukan PHK massal, Oracle sebenarnya mencatat performa keuangan yang cukup positif pada kuartal terakhir, dengan pertumbuhan pendapatan sekitar 20–22 persen dan melampaui ekspektasi pasar. Namun, kinerja keuangan tersebut tidak tercermin pada harga saham perusahaan di bursa. Sejak awal tahun, saham Oracle telah merosot lebih dari 20 persen, melampaui penurunan rata-rata perusahaan teknologi raksasa lainnya. Kondisi ini membuat manajemen semakin agresif melakukan efisiensi untuk menjaga arus kas dan kemampuan pendanaan proyek AI jangka panjang.
Pada awal tahun, analis investasi memproyeksikan bahwa pengurangan 20.000–30.000 staf merupakan strategi efektif untuk menambah kas bebas perusahaan dan menutup kebutuhan pendanaan pusat data AI yang diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS. Hal ini dinilai krusial untuk mendanai proyek infrastruktur yang padat modal dan menjaga likuiditas perusahaan di tengah persaingan ketat di bisnis cloud dan AI.
Oracle Chief Clay Magouyrk mengonfirmasi bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI saat ini sangat tinggi. Tercermin dalam sisa kewajiban kinerja (remaining performance obligations) perusahaan yang mencapai Rp9.068 triliun. “Permintaan untuk infrastruktur AI, baik GPU maupun CPU, terus melebihi pasokan,” kata Magouyrk. Selain restrukturisasi tenaga kerja, Oracle juga mulai menguji coba program agen AI untuk menggantikan tugas administrasi basis data rutin yang sebelumnya memerlukan tim insinyur dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Oracle tercatat telah menghimpun utang dan ekuitas senilai sekitar US$45–50 miliar pada Januari lalu untuk mendanai ekspansi infrastruktur cloud dan AI. Namun, manajemen menyatakan belum memiliki rencana untuk menambah utang baru pada tahun fiskal 2026 dan berharap investasi besar di sektor AI bisa berbalik memberikan arus kas kuat dalam beberapa tahun ke depan. Dengan kombinasi PHK massal, efisiensi biaya, dan pembangunan pusat data AI, Oracle berupaya mengamankan posisinya dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan global.

Leave a Reply