Cadangan minyak nasional Jepang dilepas 26 Maret 2026 untuk mengamankan pasokan energi di tengah konflik Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, dan lonjakan harga minyak dunia.
TOKYO, JOSS.CO.ID – Jepang mengambil langkah darurat menghadapi krisis energi global dengan melepas cadangan minyak nasional mulai 26 Maret 2026, di saat pasokan dari Timur Tengah kian tersendat dan harga minyak dunia menanjak ke level tertinggi sejak 2022.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan, kebijakan ini ditempuh untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga energi di dalam negeri, setelah tahapan awal berupa pelepasan cadangan minyak sektor swasta yang sudah dimulai sejak 16 Maret 2026.
“Pelepasan cadangan nasional akan dimulai pada 26 Maret, dan cadangan bersama dengan negara produsen juga akan dilepas dalam waktu dekat,” ungkapnya, dikutip dari Channel News Asia, Selasa (24/6/2026).
Gejolak harga minyak ini dipicu serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari yang diikuti penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, sebuah jalur pelayaran vital untuk distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan selat tersebut memicu kekhawatiran luas akan krisis energi global, termasuk di Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan itu.
Dalam skema terbaru, Tokyo akan memanfaatkan cadangan minyak gabungan yang disimpan di Jepang bersama negara produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Dari sekitar 13 juta barel cadangan bersama, Jepang diperkirakan memakai volume yang setara dengan kebutuhan domestik selama lima hari sebagai bantalan awal.
Jepang juga ambil bagian dalam program pelepasan cadangan minyak global yang dikoordinasikan International Energy Agency (IEA), dengan total hampir 80 juta barel, mayoritas minyak mentah, untuk menahan tekanan harga di pasar internasional.
Di lapangan, arus distribusi minyak menuju Jepang ikut terdampak. Sejumlah kapal tanker menghindari Selat Hormuz dan berlayar melalui rute alternatif, dengan pengiriman dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diperkirakan tiba dalam waktu dekat, sementara pasokan tambahan dari luar Timur Tengah baru dijadwalkan masuk pada akhir April.
Walau Iran sempat menyebut kapal tujuan Jepang tetap diperbolehkan melintas, data pelacakan menunjukkan tidak ada tanker yang berangkat dari kawasan tersebut menuju Jepang sejak awal Maret. Beberapa perusahaan pelayaran besar asal Jepang memilih menahan kapal mereka di zona aman karena mempertimbangkan risiko keamanan di sekitar selat.
Pelaku industri memperingatkan bahwa cadangan minyak yang ada saat ini hanya mampu menopang kebutuhan hingga kisaran akhir April, sebelum tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan negara lain diperkirakan mulai mengalir paling cepat pada Juni. Kondisi ini membuat pemerintah Jepang terus membuka opsi tahap pelepasan cadangan berikutnya jika ketegangan di Timur Tengah berlarut dan pasokan global belum pulih.

Leave a Reply