
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia buka opsi impor minyak Rusia untuk jaga pasokan energi Indonesia di tengah konflik Timur Tengah dan harga minyak yang memanas.
JOSS.CO.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia dapat membuka keran pembelian minyak dari negara mana pun, termasuk Rusia, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri di tengah memanasnya harga minyak global.
Bahlil mengatakan pembelian juga bisa berasal dari Rusia, Iran, maupun Venezuela, yang belakangan menjadi negara yang sering dimusuhi oleh Amerika Serikat (AS).
“Semua negara, semua negara ada kemungkinannya. [Hal] yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada,” ujar Bahlil kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM, Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan, opsi impor ini mempertimbangkan nilai keekonomian minyak yang tengah memanas akibat konflik antara Iran dan AS–Israel di kawasan Timur Tengah.
Apalagi, kata Bahlil, AS sebagai negara yang pernah melarang pembelian minyak dari Rusia dan Venezuela, kini justru memberikan kelonggaran bagi pedagang yang ingin membeli minyak Rusia.
“Kenapa tidak? Toh Amerika saja sekarang suda membuka untuk Rusia kok,” tutur Bahlil.
Relaksasi AS terhadap Minyak Rusia
Tujuan pengiriman minyak Rusia melalui jalur laut saat ini menjadi sorotan setelah AS memberikan relaksasi sementara bagi pembeli yang mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut.
Langkah ini dimaksudkan untuk meredakan tekanan yang semakin meningkat pada harga seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah dan gangguan di jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam unggahan di media sosial, mengatakan langkah ini dirancang sebagai “langkah jangka pendek dan sangat terbatas” yang “hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia.”
Kebijakan yang berlaku untuk minyak yang dimuat sebelum 12 Maret ini memperluas pembiayaan selama satu bulan yang sebelumnya diberikan di India, namun tidak mengizinkan Iran untuk membeli minyak tersebut.
Di sisi lain, Pemerintah AS memang tengah berupaya menstabilkan harga minyak mentah dan bahan bakar yang melonjak, tetapi sejauh ini harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$95 per barel.
Momentum Indonesia Diversifikasi Impor Minyak
Pada kesempatan terpisah, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kholid Syeirazi meminta pemerintah mempertimbangkan mulai membeli minyak mentah dari Rusia, seiring adanya pelonggaran sanksi sementara yang diberlakukan AS terhadap minyak Rusia di laut.
Kholid menjelaskan, langkah AS tersebut bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendiversifikasi sumber impor dengan mengimpor minyak mentah dari Rusia yang harganya jauh lebih murah dibandingkan minyak di pasar global.
“Nah dengan pelonggaran Amerika ini saya kira momentum itu mulai meningkat, mulai meningkatkan sumber-sumber pasokan termasuk dari Rusia yang dulu itu lumayan ekonomis, karena yang mau beli itu enggak banyak dan enggak berani, karena takut diembargo oleh Amerika,” kata Kholid ditemui awak media di Rest Area KM 57 Jakarta–Cikampek, Senin (16/3/2026).
Dia meyakini karakteristik minyak mentah Rusia dapat diolah di kilang minyak domestik, karena kilang dalam negeri kini memiliki kemampuan mengolah minyak mentah baik tipe ringan maupun berat.
“Cocok, kan rata-rata saya kira kompleksitas kilang kita itu sudah bisa mengolah minyak, baik itu yang light maupun heavy raw, itu semuanya sudah ada. Di semua kilang kita itu ada berbagai fasilitas, misalnya mengolah yang light di mana, yang heavy di mana, tinggal mode pengolahannya saja. Mode operasinya bisa di adjust,” terang Kholid.

Leave a Reply