Ratusan WNI Dibebaskan dari Jaringan Cyberscam di Kamboja

Ratusan WNI Dibebaskan dari Jaringan Cyberscam di Kamboja
Orang-orang berkumpul di depan kedutaan besar Indonesia di Phnom Penh pada hari Senin. Sejak 1 Januari, ratusan warga Indonesia yang dibebaskan dari sindikat penipuan telah meminta bantuan kedutaan untuk kembali ke tanah air. Foto: AFP

JOSS.CO.ID, Phnom Penh, Kamboja – Pemerintah Indonesia mengonfirmasi bahwa lebih dari 400 warga negara Indonesia (WNI) telah dibebaskan dari jaringan penipuan daring atau cyberscam di Kamboja sepanjang bulan ini. Pembebasan tersebut terjadi setelah pemerintah Kamboja mengumumkan operasi penindakan baru terhadap industri ilegal tersebut.

Jaringan penipuan siber di Asia Tenggara diketahui beroperasi lintas negara, dengan para pekerja yang sebagian direkrut secara sukarela dan sebagian lainnya menjadi korban perdagangan manusia. Mereka menargetkan pengguna internet di seluruh dunia melalui modus penipuan asmara palsu dan investasi kripto, dengan nilai kerugian mencapai puluhan miliar dolar AS setiap tahun.

Sejumlah warga negara asing dilaporkan meninggalkan kompleks yang diduga menjadi pusat operasi penipuan di berbagai wilayah Kamboja. Langkah ini menyusul janji pemerintah setempat untuk “eliminate” permasalahan yang berkaitan dengan praktik penipuan daring. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya menyatakan bahwa industri ini mempekerjakan sedikitnya 100.000 orang di Kamboja.

Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, menyebut langkah penegakan hukum terbaru telah berdampak signifikan. Menurutnya, tindakan tersebut menyebabkan “many online scam syndicates – letting their workers go”, sebagaimana disampaikannya dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial.

Mengutip dari Scmp.com, berdasarkan unggahan Instagram Kedutaan Besar RI di Phnom Penh, tercatat 440 WNI mendatangi kedutaan antara 1 hingga 18 Januari setelah mereka “released by online scam syndicates”. Sebagian besar dari mereka meminta bantuan untuk dapat kembali ke Indonesia.

“Because Cambodia’s crackdown will continue, the embassy predicts many more will flow in from the provinces,” kata Santo.

Ia menjelaskan bahwa para WNI tersebut telah “involved in online scams” selama beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Beberapa di antaranya juga dilaporkan paspornya ditahan oleh pihak pengelola jaringan penipuan.

Santo menambahkan bahwa pihak kedutaan akan mempercepat proses pemulangan, namun seluruh WNI “being directed to return home independently”.

Korban Mengaku Dipaksa Menipu

Pada Senin, puluhan orang terlihat mengantre di luar Kedutaan Besar Indonesia di Phnom Penh, sebagian membawa koper. Seorang pemuda 18 tahun asal Sumatra mengaku melarikan diri dari sebuah kompleks di Kota Bavet, dekat perbatasan Vietnam.

Ia mengatakan dipaksa melakukan penipuan daring selama delapan bulan tanpa menerima gaji, meski dijanjikan bayaran sebesar US$600 per bulan. Pemuda tersebut tiba di Phnom Penh pada Minggu dan mendatangi kedutaan untuk mengurus paspor baru karena paspornya “with a Chinese boss”.

“They heard police were coming inside the compound, so they let everyone go,” ujarnya.

Dampak Internasional dan Respons China

Kelompok kejahatan lintas negara yang sebagian besar berbasis di Kamboja dan Myanmar awalnya menargetkan penutur bahasa Mandarin. Namun, operasi mereka kini meluas ke berbagai bahasa dan negara.

Sekitar 100 orang juga terlihat mengantre di luar Kedutaan Besar China di Phnom Penh pada hari yang sama. Namun, mereka menolak memberikan keterangan kepada Agence France-Presse. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan Beijing “attaches great importance to the safety of Chinese citizens overseas”.

Pemerintah Kamboja juga baru-baru ini menangkap dan mendeportasi taipan kelahiran China, Chen Zhi, yang dituduh menjalankan operasi penipuan internet dari Kamboja. Chen, yang pernah menjadi penasihat pemerintah Kamboja, telah didakwa oleh otoritas Amerika Serikat pada Oktober lalu.

Bukan Akhir Industri Penipuan

Pakar anti-perdagangan manusia di Kamboja, Mark Taylor, menilai deportasi Chen telah mengguncang industri penipuan. Ia mengatakan sejumlah operator kemungkinan memilih membebaskan pekerja atau mengosongkan kompleks karena takut menghadapi konsekuensi hukum.

Banyak pelaku penipuan, menurut Taylor, khawatir “that they’re going to face punishment, eventually”. Namun, ia juga menyoroti dugaan keterkaitan antara politisi dan jaringan penipuan, serta operasi penindakan sebelumnya yang dinilai hanya bersifat simbolis.

Taylor menyebut langkah terbaru ini kemungkinan hanya “another transaction”, yakni strategi untuk memindahkan peralatan, manajer, dan pekerja agar bisnis tetap berjalan. Ia menegaskan, “There’s no evidence that this is really an end of the industry.”

Pemerintah Kamboja membantah tuduhan keterlibatan aparat negara. Otoritas setempat menyatakan sekitar 5.000 orang telah ditangkap dalam penggerebekan jaringan penipuan selama enam bulan terakhir. Pekan lalu, pengusaha lokal Ly Kuong menjadi tokoh terkemuka pertama yang didakwa atas kasus perdagangan manusia, pencucian uang, dan pengelolaan sejumlah kompleks penipuan.

Baca Juga:

María Corina Machado Serahkan Medali Nobel ke Donald Trump

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*