
JOSS.CO.ID — Pemimpin oposisi Venezuela dan pemenang Nobel Perdamaian 2025, María Corina Machado, secara simbolis menyerahkan medali Nobel Peace Prize miliknya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada Kamis siang waktu setempat. Machado mengatakan gestur itu dilakukan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi Trump terhadap kebebasan rakyat Venezuela. (ABC News)
Machado, yang berbicara kepada wartawan setelah pertemuan dan kunjungan ke Capitol Hill, menyebut percakapan mereka “excellent” dan menyatakan bahwa dia percaya Trump “berkomitmen pada kebebasan semua warga Venezuela.” Namun ia tidak merinci apakah Trump menerima medali secara resmi, hanya mengatakan: “Saya menyerahkan kepada Presiden Amerika Serikat medali, Nobel Peace Prize.” (ABC News)
Pertemuan ini terjadi di tengah pergeseran politik besar di Venezuela setelah operasi militer AS yang menangkap Presiden Nicolás Maduro awal Januari, serta dinamika hubungan AS–Venezuela yang semakin kompleks. Bagi oposisi Venezuela, pertemuan dengan Trump dipandang sebagai momen krusial untuk mengokohkan dukungan internasional bagi agenda demokrasi mereka. (TVRI News)
Trump menanggapi pemberian itu sebagai gestur luar biasa penuh rasa saling menghormati melalui unggahan di platform media sosialnya, tetapi juga kembali mempertanyakan kemampuan Machado untuk memimpin Venezuela, dengan alasan kurangnya dukungan domestik. (People.com)
Status Nobel & Pernyataan Komite
Meskipun medali itu kini berada di tangan Trump, Komite Nobel menegaskan bahwa hadiah Nobel tidak bisa dipindahkan atau dialihkan — status Machado sebagai pemenang tetap tidak berubah. (People.com)
Menurut aturan resmi yang dikeluarkan sebelumnya oleh Norwegian Nobel Institute, setelah hadiah diumumkan, “hadiah tersebut tidak bisa dicabut, dibagi, atau dipindahkan kepada orang lain.” (ABC7 Los Angeles)
Komentar Pakar dan Reaksi Internasional
Pandangan Akademisi dan Pengamat
1. Sejarawan dan Pengamat Diplomasi
Beberapa pakar hubungan internasional menyebut tindakan itu “tidak lazim dan berisiko melemahkan simbolisme Nobel.” Mereka menilai medali Nobel adalah simbol universal perdamaian, bukan alat politis bilateral. Langkah Machado telah memicu kritik dari politisi dan akademisi di Norwegia yang menggambarkan hadiah tersebut sebagai penghormatan untuk pekerjaan damai, bukan sebagai alat diplomasi politis. (Reddit)
2. Pengamat Politik Amerika dan Latin
Analis politik AS dan pengamat kebijakan luar negeri melihat pemberian medali ini sebagai manuver strategis Machado untuk mendapatkan kembali pengaruh Trump setelah ia menyokong kepemimpinan interim Venezuela yang dipimpin Delcy Rodríguez, mantan sekutu Maduro. Kritikus mengatakan gestur itu bisa melemahkan posisi oposisi secara domestik jika publik menilai Machado terlalu bergantung pada politik luar negeri AS. (The Guardian)
3. Perspektif dari Norway/Nobel Experts
Tokoh politik Norwegia menyebut langkah tersebut “absurd” dan berpotensi merusak reputasi Nobel bila hadiah diubah fungsinya menjadi alat politik bilateral — meskipun medali fisik bisa berpindah tangan, status pemenang tetap melekat pada Machado. (The Guardian)
Dampak Politik di Venezuela
Pertemuan dan pemberian medali ini terjadi dalam konteks pergolakan politik besar di Venezuela. Trump telah menunjukkan dukungan terhadap Delcy Rodríguez sebagai pemimpin interim, meskipun Rodríguez sebelumnya adalah sekutu Maduro. Hal ini memunculkan ketegangan antara kepentingan pemerintahan AS yang berfokus pada stabilitas regional maupun penguasaan sumber daya, dengan aspirasi oposisi Venezuela yang berharap pemilu demokratis segera dilaksanakan. (AP News)
Machado tetap optimis bahwa dukungan internasional akan membantu masa depan demokrasi di negaranya, meski komitmen konkret soal jalannya pemilu masih belum jelas dari pihak AS. (AP News)

Leave a Reply