Orbán Klaim Pemimpin Eropa Bentuk “War Councils”, Picu Kekhawatiran Perang Dunia Ketiga

Orbán Klaim Pemimpin Eropa Bentuk “War Councils”, Picu Kekhawatiran Perang Dunia Ketiga
AFP

Klaim Orbán di Tengah Ketegangan Global

JOSS.CO.ID – Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán mengklaim para pemimpin Eropa secara diam-diam membentuk apa yang ia sebut sebagai “war councils” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi perang dunia ketiga. Mengutip dari ibtimes.com, pernyataan ini disampaikan Orbán dalam sebuah aksi unjuk rasa anti-perang pada Sabtu, 17 Januari 2026, dan langsung memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik global.

Orbán menyatakan bahwa Uni Eropa tidak lagi berfokus pada diplomasi, melainkan telah bergeser ke arah persiapan konfrontasi militer berskala besar. Ia memperingatkan bahwa blok tersebut bergerak secara bertahap menuju konflik langsung dengan Rusia.

Pernyataan ini muncul di tengah situasi geopolitik yang semakin tegang. Di kawasan timur, perang di Ukraina masih terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda. Sementara itu, di barat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengguncang aliansi NATO melalui dorongan agresifnya untuk menganeksasi Greenland.

Tuduhan Persiapan Konflik Langsung dengan Rusia

Menurut Orbán, dalam konteks “global rattling” tersebut, elite Eropa telah mengambil keputusan strategis untuk bersiap menghadapi konfrontasi langsung dengan Rusia dalam skala besar.

Perdana Menteri berusia 62 tahun itu, yang kerap dipandang sebagai tokoh politik berbeda di dalam Uni Eropa, menggambarkan suasana pertemuan tertutup di Brussels sebagai forum perencanaan militer berisiko tinggi, bukan lagi diskusi kebijakan biasa.

“I am sitting there among them,” Orbán mengatakan kepada massa, “and I’m telling you quite firmly that they are going to go to war.”

Ia menuduh para pemimpin negara besar Eropa, khususnya Prancis dan Jerman, tidak lagi membahas upaya perdamaian. Sebaliknya, mereka disebut terfokus pada strategi untuk mengalahkan Rusia secara total.

Fokus Reparasi dan Pendanaan Perang Ukraina

Orbán mengklaim diskusi para pemimpin Eropa berkisar pada upaya memaksa Moskow membayar reparasi serta menarik kembali miliaran dana yang telah dialokasikan untuk perang Ukraina.

“These are not children sitting there,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa keputusan anggaran dan militer yang diambil para pemimpin terpilih merupakan langkah awal menuju konflik global yang lebih luas.

Dalam posisi berbeda, Hungaria menyatakan tidak akan ikut serta. Orbán menegaskan pemerintahannya akan “keep the door shut” dengan menolak mengirim pasukan maupun dana ke medan konflik.

Ia menilai sikap tersebut sebagai langkah realistis, baik dari sisi ekonomi maupun keamanan nasional. “If you have no money, you have no grand plan,” kata Orbán, menekankan bahwa keterlibatan dalam perang berisiko menghancurkan masa depan ekonomi Hungaria.

Dinamika Politik Jelang Pemilu Hungaria 2026

Namun, sejumlah pengamat menilai klaim “perang dunia ketiga” tersebut tidak lepas dari konteks politik domestik. Pemilu parlemen Hungaria dijadwalkan berlangsung pada 12 April 2026, dan Orbán menghadapi tantangan terberatnya dalam 16 tahun terakhir dari Partai TISZA yang dipimpin Péter Magyar.

Narasi “perang atau damai” dinilai menjadi strategi politik yang kuat sekaligus kontroversial untuk mengonsolidasikan dukungan pemilih.

Pejabat Uni Eropa dengan tegas membantah tuduhan pembentukan “war councils”. Mereka menyatakan pertemuan yang dimaksud Orbán semata-mata membahas keamanan defensif dan bantuan kemanusiaan, justru untuk mencegah pecahnya perang global.

Menurut pihak Uni Eropa, framing Orbán yang menggambarkan blok tersebut sebagai pihak agresor dianggap sejalan dengan narasi yang menguntungkan Moskow dan ditujukan untuk kepentingan politik dalam negeri.

Kekhawatiran Publik di Tengah Eropa yang Terbelah

Meski demikian, bagi ribuan warga yang menghadiri aksi di Miskolc, pesan Orbán terasa jelas. Di tengah eskalasi perang Ukraina dan dampak ambisi Greenland dari Donald Trump, Orbán memosisikan dirinya sebagai benteng terakhir melawan Eropa yang ia sebut sedang “marching into the abyss”.

Terlepas dari apakah pernyataan tersebut merupakan peringatan serius atau strategi kampanye politik, isu “war councils” telah memperdalam rasa cemas di Eropa yang semakin terpecah oleh konflik geopolitik dan ketidakpastian global.

Baca Juga:

Ratusan WNI Dibebaskan dari Jaringan Cyberscam di Kamboja

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*