
JOSS.CO.ID – Rencana akuisisi Grab Holdings terhadap GoTo Group senilai miliaran dolar Amerika Serikat kembali menghadapi hambatan. Kepemilikan saham sekitar 2 persen oleh PT Telkomunikasi Seluler (Telkomsel) disebut menjadi faktor utama yang menghambat kelanjutan negosiasi kedua perusahaan teknologi besar tersebut.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, seperti dikutip StraitTimes.com (23/1), proses negosiasi tersendat karena Telkomsel tidak bersedia melepas kepemilikannya pada valuasi yang mendekati harga pasar GoTo saat ini. Hal itu disebabkan investasi awal Telkomsel dilakukan pada harga yang jauh lebih tinggi.
Telkomsel, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh perusahaan pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), juga menyampaikan kekhawatiran terkait potensi kerugian atas modal negara. Berdasarkan hukum Indonesia, kerugian tersebut berpotensi dikenai sanksi pidana.
Meski secara teknis Telkomsel dapat memilih untuk tidak menerima tawaran pengambilalihan dari Grab dan mempertahankan kepemilikan sahamnya, perusahaan tersebut disebut tengah memanfaatkan momentum rencana akuisisi untuk menegosiasikan harga yang lebih tinggi.
Di sisi lain, Grab yang berbasis di Singapura berupaya memastikan dukungan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Langkah ini penting karena rencana akuisisi GoTo memerlukan persetujuan pemerintah Indonesia.
Isu terkait Telkomsel ini menjadi hambatan terbaru dalam upaya Grab yang telah berlangsung selama bertahun-tahun untuk bergabung dengan GoTo. Selain perbedaan persepsi valuasi, potensi penolakan regulator juga menyebabkan pembahasan kesepakatan berjalan lambat. Meski demikian, Grab tetap mendorong terwujudnya akuisisi guna memperbesar pangsa pasar dan meredakan tekanan harga.
Telkomsel, yang dibentuk sebagai usaha patungan antara Telkom dan Singtel, pada 2021 menginvestasikan US$300 juta (S$383,6 juta) ke entitas yang kemudian menjadi GoTo. Investasi tersebut melanjutkan penanaman modal sebelumnya berupa obligasi konversi senilai US$150 juta pada tahun sebelumnya.
Penjualan saham pada harga GoTo saat ini berpotensi menyebabkan kerugian hingga ratusan juta dolar AS. Hingga kini, negosiasi masih berlangsung, termasuk pembahasan struktur terpisah untuk membeli saham milik Telkomsel, namun belum mencapai kesimpulan.
Juru Bicara Telkomsel menyatakan perusahaan tidak mengomentari spekulasi pasar, rumor, maupun diskusi yang sedang berlangsung dengan pihak ketiga.
Saat ini, GoTo memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$4,2 miliar, sementara Grab, yang tercatat di bursa New York, memiliki valuasi sekitar US$18,5 miliar. Rencana akuisisi juga belum terwujud akibat kekhawatiran antimonopoli yang mungkin muncul dari penggabungan dua penyedia transportasi daring terbesar di Asia Tenggara.
Sejumlah politisi Indonesia menyoroti potensi dampak negatif, seperti kenaikan tarif transportasi, pengurangan lapangan kerja, serta hilangnya perusahaan teknologi nasional ke tangan pemilik asing.
Di tengah pembahasan tersebut, pemerintah juga tengah menyiapkan rancangan peraturan baru untuk industri transportasi daring. Regulasi ini berpotensi memengaruhi laba dan margin perusahaan, serta berdampak pada rasional dan valuasi akuisisi.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa pembahasan mengenai besaran komisi perusahaan terhadap pengemudi serta skema asuransi kecelakaan dan kematian masih belum mencapai kesepakatan. Pemerintah menghadapi tekanan untuk merespons tuntutan pengemudi terkait kompensasi dan kondisi kerja yang lebih baik, menyusul gelombang protes di berbagai daerah.
Jutaan pengemudi taksi mobil dan sepeda motor di Indonesia saat ini menerima upah rendah, sebagian besar tidak memiliki asuransi, dan menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang dinilai gagal menyediakan lapangan kerja yang aman dan layak.
Jika berhasil mengakuisisi GoTo, Grab yang didukung Uber Technologies akan memperkuat posisinya sebagai perusahaan transportasi daring dan pengantaran makanan terbesar di Asia Tenggara.
Sebelumnya, Grab sempat mempertimbangkan valuasi GoTo di atas US$7 miliar, dengan salah satu opsi berupa akuisisi seluruh saham pada kisaran 100 rupiah per saham. Namun, rencana tersebut berubah seiring harga saham GoTo yang telah turun sekitar 30 persen dalam 12 bulan terakhir.
Baik Grab maupun GoTo kini menghadapi perlambatan pertumbuhan dibandingkan era ekspansi agresif sebelumnya. Fokus perusahaan bergeser ke profitabilitas, meskipun margin keuntungan tetap tipis akibat persaingan ketat yang menahan harga tetap rendah.

Leave a Reply