Mimpi Anak Jadi Taruna Akpol Berujung Penipuan Rp2,65 Miliar

Mimpi Anak Jadi Taruna Akpol Berujung Penipuan Rp2,65 Miliar
Ilustrasi

Kasus penipuan jalur khusus Akpol di Pekalongan menimpa Dwi Purwanto. Kerugian capai Rp2,65 miliar, diduga libatkan dua oknum polisi.

JOSS.CO.ID, PEKALONGAN – Impian besar Dwi Purwanto, warga Desa Kulu, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, untuk melihat anaknya mengenakan seragam taruna Akademi Kepolisian (Akpol) berubah menjadi tragedi.
Bukannya kabar bahagia kelulusan, Dwi justru harus menelan pil pahit setelah kehilangan uang dalam jumlah fantastis: Rp2,65 miliar.

Kasus dugaan penipuan dengan modus “jalur khusus Kapolri” ini kini tengah menjadi sorotan publik. Dwi Purwanto resmi melaporkan empat orang ke Polda Jawa Tengah, dua di antaranya diketahui merupakan anggota polisi aktif di wilayah Pekalongan.

Dalam laporan yang diajukan Dwi, terdapat empat nama terlapor, Aipda F alias RH (anggota Polri), Bripka AUK alias AL (anggota Polri), JK (warga sipil) dan AG (warga sipil)

Keempatnya diduga terlibat dalam praktik penipuan yang menjanjikan kelulusan anak Dwi di seleksi Akpol melalui jalur istimewa.

Kisah bermula ketika Dwi ditawari “bantuan” agar anaknya bisa lolos seleksi Akademi Kepolisian. Penawaran itu datang dengan iming-iming jalur khusus yang diklaim memiliki koneksi langsung ke pimpinan tertinggi Polri.

“Awalnya saya percaya karena salah satu dari mereka mengaku punya hubungan dekat dengan pejabat tinggi. Saya menyerahkan uang secara bertahap hingga totalnya mencapai Rp2,65 miliar,” ujar Dwi, dikutip dari iNews Pantura pada Jumat (24/10/2025).

Lebih mencengangkan lagi, salah satu terlapor bahkan mengaku sebagai adik Kapolri. Klaim tersebut digunakan untuk memperkuat kepercayaan korban agar terus mentransfer uang tanpa curiga.

Setelah seluruh uang diserahkan, janji tinggal janji. Anak Dwi akhirnya dinyatakan tidak lolos seleksi Akpol, meski sudah dijanjikan jalur khusus.

Dwi mencoba berulang kali menagih pengembalian uangnya, namun hasilnya nihil. Bahkan, para terlapor diduga sempat menghindar dan sulit dihubungi setelah mengetahui korban mulai mencurigai kebohongan mereka.

“Uang hasil jerih payah saya habis semua. Saya hanya ingin keadilan dan agar pelaku ditindak tegas,” ungkap Dwi dengan nada sedih.

Tak tinggal diam, Dwi akhirnya melapor ke Polda Jawa Tengah dengan nomor laporan resmi. Ia menuntut agar aparat kepolisian memproses kasus ini secara transparan dan profesional, mengingat dua dari empat terlapor adalah anggota aktif Polri.

Pihak kepolisian sendiri telah mengonfirmasi bahwa laporan tersebut sedang dalam proses penyelidikan. “Kasusnya masih kami dalami, termasuk memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan bukti transfer,” ujar salah satu sumber di Polda Jateng yang enggan disebut namanya.

Pihak Mabes Polri berkali-kali menegaskan bahwa tidak ada jalur khusus, apalagi ‘jalur Kapolri’, dalam seleksi penerimaan taruna Akpol. Semua proses dilakukan secara transparan, berbasis merit dan kemampuan peserta.

Dalam keterangan resminya, Divisi Humas Polri mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap pihak mana pun yang menawarkan kemudahan masuk Akpol dengan imbalan uang.
“Jika menemukan praktik seperti itu, segera laporkan ke Propam atau Polda setempat,” tulis pernyataan resmi Polri melalui situs Humas Polri.

Baca Juga: Kapolri Bentuk Tim Reformasi Polri, Libatkan 52 Perwira

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*