Negara dengan Inovasi Terbaik di Dunia 2025, Indonesia ?

dorf weggis vierwaldstättersee schweiz
Ilustrasi, dorf weggis vierwaldstättersee schweiz (Istock)

JOSS.CO.ID – Global Innovation Index (GII) 2025 resmi dirilis dan kembali menempatkan Swiss sebagai negara dengan inovasi terbaik di dunia. Dalam laporan terbaru ini, Swiss berhasil mempertahankan posisinya selama 15 tahun berturut-turut dengan skor 66, tertinggi di antara 139 negara.

Penilaian GII 2025 mencakup data dari tahun 2023 hingga 2025, mewakili sekitar 80 persen dari seluruh titik data. Indeks ini menilai inovasi berdasarkan 80 indikator, mulai dari kebijakan, pendidikan, infrastruktur, penciptaan pengetahuan, hingga dampak sosial-ekonomi.

Apa Itu Global Innovation Index?

Global Innovation Index merupakan pemeringkatan tahunan yang dikeluarkan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) bersama mitra riset internasional. Indeks ini digunakan untuk mengukur kemampuan dan output inovasi suatu negara.

Ada empat tahap utama dalam menilai inovasi:

  1. Investasi sains dan inovasi
  2. Kemajuan teknologi
  3. Adopsi teknologi
  4. Dampak sosial-ekonomi

Dengan sistem penilaian ini, GII kerap dijadikan acuan oleh banyak negara untuk mengevaluasi arah kebijakan inovasi mereka.

Mayoritas Negara Eropa Kuasai 10 Besar

Berdasarkan GII 2025, negara-negara Eropa masih mendominasi daftar 10 besar. Berikut urutannya:

  1. Swiss – Skor 66
  2. Swedia – Skor 62
  3. Amerika Serikat – Skor 61
  4. Korea Selatan – Skor 60
  5. Singapura – Skor 59,9
  6. Inggris Raya – Skor 59,1
  7. Finlandia – Skor 57,7
  8. Belanda – Skor 57
  9. Denmark – Skor 56,9
  10. China – Skor 56,6

Swiss unggul berkat Output Kreatif yang konsisten tinggi, sementara Swedia menonjol dalam kecanggihan bisnis serta nilai merek global. Amerika Serikat menjadi satu-satunya wakil dari Amerika, sedangkan Asia diwakili oleh Korea Selatan, Singapura, dan China.

Posisi Indonesia di Global Innovation Index 2025

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, Indonesia masih harus bekerja keras. Dalam GII 2025, Indonesia hanya berada di peringkat 55 dunia dengan skor 31,3.

Posisi ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga:

  • Malaysia – Peringkat 34 (skor 40,6)
  • Vietnam – Peringkat 44 (skor 37,1)
  • Thailand – Peringkat 45 (skor 36,7)
  • Filipina – Peringkat 50 (skor 33,6)

Hal ini menunjukkan bahwa potensi inovasi di Indonesia masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Kelemahan utama terlihat pada faktor penelitian, pengembangan, dan infrastruktur teknologi.

Mengapa Indonesia Masih Tertinggal?

Ada beberapa faktor yang membuat Indonesia belum bisa menembus 50 besar GII 2025:

  • Rendahnya investasi riset dan pengembangan (R&D) dibandingkan negara tetangga.
  • Keterbatasan infrastruktur digital, terutama di wilayah luar Jawa.
  • Kesenjangan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang berorientasi inovasi.
  • Kurangnya kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah.

Padahal, Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah penduduk yang produktif serta pertumbuhan startup digital yang pesat.

Peluang Indonesia Mengejar Ketertinggalan

Meskipun belum masuk jajaran atas, Indonesia masih punya peluang besar untuk memperbaiki peringkat di masa depan. Beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh antara lain:

  1. Meningkatkan anggaran R&D hingga setara dengan standar internasional.
  2. Membangun ekosistem inovasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
  3. Mendorong digitalisasi UMKM agar lebih kompetitif di pasar global.
  4. Meningkatkan literasi teknologi sejak pendidikan dasar.

Langkah-langkah ini dinilai penting untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis inovasi.

Singapura Jadi Teladan Asia Tenggara

Sebagai perbandingan, Singapura menempati peringkat 5 besar dunia dengan skor 59,9. Keberhasilan negara ini berkat konsistensi dalam mengalokasikan dana riset, kebijakan pro-inovasi, serta dukungan infrastruktur teknologi kelas dunia.

Indonesia bisa belajar dari strategi Singapura yang fokus pada ekosistem startup, pendidikan STEM, dan kolaborasi global. Dengan demikian, ketertinggalan inovasi dapat dikejar dalam beberapa tahun mendatang.

Global Innovation Index 2025 menegaskan bahwa Swiss masih menjadi pusat inovasi dunia, sementara Indonesia harus bekerja keras untuk memperbaiki posisinya. Meski saat ini berada di urutan 55, peluang untuk naik peringkat tetap terbuka jika pemerintah dan masyarakat mampu mengoptimalkan potensi inovasi nasional.

Apakah Indonesia siap menjadi kekuatan inovasi di masa depan? Hanya waktu dan langkah konkret yang bisa menjawab.

Baca Juga: Laporan Global Macro Poverty Outlook: 68% Warga Indonesia Dinilai “Miskin”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*