
JOSS.CO.ID, Dili – Parlemen Timor Leste akhirnya mencabut kebijakan fasilitas pensiun seumur hidup bagi anggota parlemen serta membatalkan rencana pembelian 65 unit mobil dinas mewah. Keputusan ini diambil setelah gelombang aksi protes dan demo mahasiswa dan masyarakat meluas di ibu kota Dili Timor Leste sejak awal pekan.
Unjuk rasa yang berlangsung sejak Senin (15/9/2025) dipicu rencana pengadaan mobil SUV Toyota Prado senilai 4,2 juta dolar AS atau sekitar Rp68 miliar. Massa menilai kebijakan tersebut tidak adil di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih sulit.
Protes kemudian berkembang dengan tuntutan pembatalan dana pensiun seumur hidup yang diatur dalam undang-undang tahun 2006. Massa menilai fasilitas tersebut hanya menguntungkan segelintir elit politik.
Gelombang Aksi
Ribuan mahasiswa dan warga turun ke jalan menolak kebijakan parlemen. Aksi sempat ricuh ketika massa melempar batu, sementara polisi membalas dengan gas air mata.
Cristovao Mato (27), salah satu perwakilan mahasiswa, menyatakan demo akan terus berlanjut bila pemerintah tidak menindaklanjuti keputusan parlemen Timor Leste.
“Jika mereka tidak mematuhi kesepakatan, kami akan menggelar protes yang lebih besar,” ujarnya kepada AFP, Rabu (17/9/2025).
Sejumlah peserta aksi masih meragukan pembatalan tersebut. Trinito Gaio (42) menilai rumor beredar bahwa mobil sudah dalam perjalanan ke Dili.
“Inilah alasan saya dan semua mahasiswa ada di sini – untuk memastikan uang pajak saya tidak disalahgunakan,” katanya.
Keputusan Parlemen
Parlemen Timor Leste dalam pernyataannya menegaskan resolusi telah diadopsi untuk membatalkan proses pengadaan kendaraan baru dalam anggaran 2025. Selain itu, parlemen juga akan meninjau ulang aturan terkait pensiun seumur hidup anggota legislatif.
Akademisi turut menyoroti kontroversi ini. Dekan Fakultas Ekonomi Universidade da Paz, Caetano C. Correia, menilai rencana mobil mewah mencerminkan ketidakadilan sosial.
“Banyak orang memandang bahwa pejabat publik, khususnya para legislator, tidak hidup dalam kondisi yang sama dengan masyarakat biasa. Rencana SUV itu simbol ketidakadilan,” ujarnya.
Sikap Pemerintah
Presiden Jose Ramos-Horta menegaskan tidak akan menoleransi kekerasan dalam unjuk rasa. Ia meminta demonstrasi berlangsung damai.
Sementara itu, Perdana Menteri Xanana Gusmao masih berada di London menghadiri pertemuan mengenai perbatasan laut dan darat. Ia dijadwalkan kembali ke Dili pada 22 September 2025.
Kondisi Ekonomi
Lebih dari 40 persen penduduk Timor Leste masih hidup dalam kemiskinan, menurut data Bank Dunia. Negara berpenduduk 1,3 juta jiwa ini sangat bergantung pada cadangan minyak, dengan tantangan serius berupa ketimpangan, malnutrisi, dan pengangguran.
Situasi tersebut membuat kebijakan pembelian mobil mewah dan pensiun seumur hidup menuai kritik luas, karena dianggap tidak mencerminkan kepekaan terhadap kondisi rakyat.
Gelombang protes mahasiswa berhasil memaksa parlemen Timor Leste mengubah kebijakan. Namun, sebagian massa masih menunggu realisasi pembatalan sebagai bukti nyata bahwa suara rakyat benar-benar diakomodasi.

Leave a Reply