Wali Kota Semarang Ajak Masyarakat Hemat Air Menghadapi Musim Kemarau

Semarang Hemat Air
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di reservoir PDAM, di Jalan Kelud Raya Kota Semarang, Jumat (8/9/2023). (Dok. Pemprov Jateng)

JoSS, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengajak masyarakat untuk hemat dalam penggunaan air menyikapi musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino. Musim kemarau yang berkepanjangan telah berdampak pada ketersediaan air bersih di beberapa wilayah.

Hal itu diungkapkannya saat menghadiri kegiatan Jumpa Pelanggan Kelompok Pengelola (KP) Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) Tirta Sejahtera di Kelurahan Gemah, Pedurungan, Semarang. Ia menekankan pentingnya bijaksana dalam mengelola air, terutama di lingkup keluarga, karena beberapa wilayah mengalami kesulitan pasokan air bersih.

“Saat musim kemarau seperti sekarang ini, harus pintar mengelola air. Karena air ini kan sangat terbatas,” kata Walikota Ita, sapaan akrab Hevearita, di Semarang, Minggu (22/10/2023), dilansir dari Antara.

Dia menjelaskan salah satu wilayah yang terdampak adalah Kedungpane, di mana KP SPAM setempat mati karena ketersediaan air yang sangat terbatas. Wali Kota Ita meminta masyarakat untuk ikut menjaga dan memanfaatkan air sebaik mungkin, terutama selama musim kemarau yang saat ini berlangsung.

Baca Juga: Tak Bayar Sewa Belasan Tahun, Puluhan Ruko di Kompleks Jurnatan Semarang Disegel 

“Di daerah Kedungpane, ada KP SPAM yang mati karena tidak ada airnya. Sehingga mohon masyarakat bisa ikut menjaga dan memanfaatkan air sebaik mungkin. Harus ‘ngeman-eman’, karena air ini kan sangat terbatas saat musim kemarau seperti sekarang ini,” katanya.

Meskipun persediaan air saat ini masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Semarang, upaya efisiensi dan penggunaan air yang bijak tetap penting.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Semarang, Yudi Indardo, menjelaskan bahwa persediaan air saat musim kemarau ini masih mencukupi kebutuhan pelanggan dan bantuan air ke korban kekeringan di Kota Semarang.

“Air permukaan masih terjaga dengan baik, karena biasanya berasal dari waduk di atasnya. Jadi, ada wadah tampungannya saat musim hujan untuk digunakan musim kemarau,” katanya.

Menurut Yudi, PDAM Kota Semarang lebih mengandalkan air permukaan daripada air dalam, mata air, atau artetis, sehingga persediaan air masih bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Februari 2024. PDAM berusaha menjaga ketersediaan air dengan penggunaan waduk yang memungkinkan penyimpanan air hujan untuk digunakan selama musim kemarau.

Beberapa waktu lalu, jajaran direksi dan karyawan PDAM Tirta Moedal juga melaksanakan salat istisqa, yaitu doa memohon hujan dari Allah SWT. Meskipun beberapa netizen merasa khawatir terkait ketersediaan air baku, PDAM memastikan bahwa persediaan air tetap aman.

“Kemarin (Senin, 16/10), kami lakukan salat istisqa. Netizen banyak yang khawatir ketahanan air baku menipis, padahal (persedian air) tetap aman,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*