JoSS, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengintensifkan berbagai program strategis dalam upaya percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem di wilayah tersebut. Program – program ini melibatkan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan berbagai keterampilan, pemugaran rumah tidak layak huni (RTLH), jambanisasi, penyediaan air bersih, listrik murah, serta pencegahan stunting.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi strategi penanganan kemiskinan ekstrem yang mencakup masalah RTLH, akses air bersih, dan pendidikan. Selain itu, pentingnya pemberdayaan masyarakat di daerah-daerah yang mengalami kemiskinan ekstrem juga menjadi fokus utama.
Sumarno menekankan bahwa selain program bantuan konsumtif, program pemberdayaan masyarakat memiliki peran yang sangat penting. Program ini mencakup pelatihan dan pendampingan dalam bidang wirausaha, pertukangan, dan keterampilan lainnya. Tujuan utama adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mandiri dan memiliki sumber penghasilan yang konsisten sehingga mereka dapat terbebas dari kemiskinan.
Kerjasama antar sektor juga menjadi kunci sukses dalam upaya pengentasan kemiskinan. “Kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan stakeholder lainnya sangat diperlukan dalam rangka bersama-sama menyelesaikan masalah kemiskinan di daerah-daerah yang termasuk dalam kategori kemiskinan ekstrem,” tuturnya.
Baca Juga: Lebih Mudah, Kini Asrama Haji Donohudan Bisa Dipesan Melalui Aplikasi E-Sewa
Pihaknya berharap bahwa pada tahun 2024, masalah kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah dapat berhasil diatasi. Hal ini juga sejalan dengan target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Kepala Biro Pembangunan Daerah Setda Jawa Tengah, Endi Faiz Effendi, menjelaskan bahwa terdapat delapan strategi dalam penanganan kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah. Strategi tersebut mencakup perbaikan kualitas RTLH, pemberian jamban sehat, penyediaan air bersih, listrik murah, penanganan stunting, pendidikan khusus anak disabilitas, pencegahan putus sekolah, dan bantuan kepada mereka yang tidak memiliki pekerjaan.
“Saya yakin bahwa target pengentasan kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah dapat tercapai, terutama dengan adanya kerjasama yang erat antara berbagai pihak, termasuk OPD, Baznas, UPZ, perusahaan swasta melalui dana CSR, dan filantropi Indonesia,” pungkasnya.
Ia menekankan pentingnya gotong royong dan kerjasama dari semua unsur stakeholder dalam menyediakan fasilitas dasar yang dibutuhkan oleh masyarakat di Jawa Tengah. (lna)

Leave a Reply