JoSS, SEMARANG – Harga beras di sejumlah daerah di Jawa Tengah terus mengalami kenaikan, menjauhi harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Penjabat Gubernur Jawa Tengah telah memerintahkan Satgas Pangan Jawa Tengah untuk memeriksa ketersediaan beras di pasaran, dengan tujuan memastikan tidak adanya penyimpangan harga.
Menurut data Sistem Informasi Harga dan Produksi Jawa Tengah, harga beras, baik jenis medium maupun premium, telah mengalami kenaikan sejak akhir 2022.
Pada saat itu, harga beras medium tertinggi mencapai Rp 12.000 per kilogram, sementara harga beras premium tertinggi mencapai Rp 13.500 per kilogram. Harga-harga tersebut jauh melampaui harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 10.900 per kilogram untuk beras medium dan Rp 12.900 per kilogram untuk beras premium.
Baca Juga: Harga Beras di Boyolali Tembus Rp14.000/Kg, Pemkab Pastikan Stok Mencukupi
Pada awal hingga pertengahan tahun 2023, harga beras medium dan premium di Jateng cenderung stabil tinggi. Namun, pada bulan Agustus, terjadi kenaikan kembali, bahkan mencapai titik tertingginya. Harga beras medium dan premium tertinggi berada di Wonogiri, yaitu Rp 13.000 per kilogram dan Rp 14.500 per kilogram.
Pada pekan kedua bulan September, harga beras medium dan premium kembali mengalami peningkatan. Harga tertinggi untuk beras medium tercatat di Kota Surakarta, yaitu Rp 13.200 per kilogram, sedangkan harga tertinggi untuk beras premium terdapat di Demak dan Brebes, masing-masing mencapai Rp 15.000 per kilogram.
Kenaikan harga beras ini telah menjadi penyebab utama inflasi di beberapa daerah di Jawa Tengah. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memerintahkan Satgas Pangan Jawa Tengah untuk memeriksa ketersediaan beras di pasar dan mengantisipasi adanya penyimpangan harga.
Dikutip dari kompas.com, para pedagang di beberapa daerah di Jateng menyebut bahwa kenaikan harga beras disebabkan oleh penurunan pasokan beras dari petani. Sementara itu, para petani mengklaim bahwa penurunan pasokan ke pasar disebabkan oleh produktivitas padi yang menurun akibat kekeringan. Beberapa petani bahkan mengalami kerugian yang signifikan karena tanaman padi mereka puso.
Meskipun harga beras terus naik, cadangan beras di Jateng masih mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jateng, Akhmad Kholisun, menyatakan bahwa stok beras di wilayahnya mencapai 203.851 ton. Stok ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran beras selama enam bulan ke depan.
Namun, masyarakat berharap agar pemerintah segera melaksanakan operasi pasar murah untuk menstabilkan harga beras di pasaran. Operasi pasar ini harus dihitung dengan matang oleh pihak terkait, termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Melalui upaya ini, diharapkan harga beras dapat kembali terkendali, sehingga tidak memberatkan masyarakat. (lna)

Leave a Reply