JoSS, SEMARANG – Kecelakaan kereta api terjadi lagi setelah sepekan lalu KA Brantas bertabrakan dengan truk trailer di jalan Madukoro Semarang, kali ini KA Banyubiru relasi Solo-Semarang mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil di perlintasan sebidang tanpa penjaga jalur antara Stasiun Tanggung dan Brumbung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Senin (24/7/2023) malam.
Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Ixfan Hendri Wintoko, membenarkan insiden tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Informasi yang diterima dari masinis KA Banyubiru mengungkapkan bahwa lokomotif telah memberikan peringatan dengan membunyikan klakson sebelum kecelakaan terjadi. Namun, mobil tetap melintas di perlintasan yang tidak dijaga tersebut. Akibatnya, lokomotif terbentur oleh mobil tersebut.
“Informasi dari masinis KA Banyubiru, lokomotif sudah membunyikan klakson untuk memberi peringatan,” katanya, dikutip dari Antara.
Masinis KA Banyubiru, kata dia, selanjutnya mengecek kondisi lokomotif yang tertemper mobil. “Dilakukan pengecekan di Stasiun Brumbung. Setelah pengecekan, KA kembali melanjutkan perjalanan,” katanya.
Setelah memastikan kondisinya aman, KA Banyubiru melanjutkan perjalanan. Meskipun perjalanan KA Banyubiru sempat tertunda selama sekitar 10 menit akibat kejadian tersebut.
Seringnya terjadi kecelakaan kereta menjadi perhatian serius, sebelumnya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga terus berupaya menyelidiki kecelakaan lain yang terjadi antara KA Brantas dan sebuah truk trailer di perlintasan sebidang Jalan Madukoro, Kota Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 18 Juli 2023.
Tim investigasi KNKT dibagi menjadi tiga bagian yang bertugas untuk memeriksa kondisi dan dimensi truk yang terlibat kecelakaan, mengecek elevasi rel di perlintasan, serta meminta keterangan dari PT KAI tentang rencana darurat saat keadaan memaksa.
Investigator senior KNKT Ahmad Wildan di Semarang, Jumat, mengatakan, tim yang diterjunkan tersebut dibagi menjadi tiga. Tim pertama, lanjut dia, bertugas untuk mengecek kondisi dan dimensi truk yang terlibat kecelakaan. “Truk yang terlibat kecelakaan memiliki ‘ground clerance’ sekitar 20 sampai 30 cm,” katanya.
Sementara tim kedua, kata dia, akan mengecek elevasi rel di perlintasan Jalan Madukoro tersebut.
Menurut dia, lintasan di lokasi kecelakaan tersebut diduga tidak ramah dengan kendaraan dengan “ground clerance” rendah.
“Setelah data dimensi truk dan elevasi jalan diperoleh, akan kami simulasikan,” katanya.
Ia menuturkan nantinya akan diketahui penyebab truk tersangkut hingga macet di atas rel.
Adapun tim ketiga, lanjut dia, akan meminta keterangan dari PT KAI, antara lain berkaitan dengan seberapa cepat informasi yang diperoleh tentang adanya truk yang macet di tengah perlintasan.
“Bagaimana rencana darurat saat keadaan memaksa yang dimiliki KAI,” katanya.
Hasil dari investigasi ini akan menjadi acuan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan tentang keberadaan perlintasan sebidang. Diharapkan dengan adanya investigasi ini, kecelakaan di perlintasan sebidang dapat diminimalkan, dan keselamatan perjalanan kereta api serta pemakai jalan dapat terjamin. (lna)

Leave a Reply