
JoSS, AUCKLAND – Selandia Baru, diguncang oleh peristiwa penembakan massal beberapa jam sebelum pembukaan Piala Dunia Wanita. Serangan ini menggegerkan kota ketika puluhan ribu orang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan Selandia Baru melawan Norwegia pada pertandingan pertama turnamen tersebut.
Perdana Menteri Selandia Baru, Chris Hipkins, mengungkapkan rincian tentang serangan tersebut dalam konferensi pers. Dia membenarkan bahwa tiga orang tewas, termasuk pelaku, dan beberapa lainnya mengalami luka.
Layanan darurat dengan sigap merespons dan tiba di distrik pusat bisnis kota setelah laporan tentang seorang pria bersenjata senapan pompa yang melepaskan tembakan di lokasi konstruksi. Polisi dengan persenjataan lengkap segera mendekati lokasi kejadian. Polisi menutup sebagian besar kawasan bisnis untuk menangani situasi tersebut.
“Dia bergerak melalui lokasi pembangunan sambil mengeluarkan senjata api saat dia pergi,” kata Hipkins, dikutip Reuters. “Setelah mencapai tingkat atas gedung, pria itu memasukkan dirinya ke dalam lift. Tembakan dilepaskan, dan dia ditemukan beberapa saat kemudian.”
Baca Juga: Skandal Perselingkuhan Guncang Politik Singapura, Dua Anggota Parlemen Senior Mundur
Chris Hipkins menyampaikan bahwa polisi melakukan baku tembak dengan pelaku dalam upaya menyelamatkan nyawa orang lain. Komisaris Polisi Selandia Baru, Andrew Coster, mengungkapkan bahwa seorang petugas polisi terluka ketika mencoba untuk menghadapi pria bersenjata itu, sementara empat orang lainnya mengalami luka serius hingga kritis.
Tersangka penembakan diizinkan untuk bekerja di lokasi konstruksi tempat insiden terjadi, meskipun dia sedang dalam penahanan rumah. Polisi percaya bahwa peristiwa ini terkait dengan pekerjaannya di sana. Pria tersebut memiliki riwayat kekerasan keluarga tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda risiko tinggi. Selain itu, dia tidak memiliki lisensi senjata api.
Meskipun insiden penembakan ini terjadi, pihak penyelenggara Piala Dunia Wanita, FIFA, menyatakan bahwa turnamen akan tetap berjalan sesuai rencana. Namun, tayangan pertandingan di layar lebar dibatalkan sebagai bentuk penghormatan terhadap korban tewas.
“FIFA telah diberitahu bahwa ini adalah insiden yang tidak terkait dengan operasi sepak bola, pertandingan pembukaan malam ini akan berjalan sesuai rencana,” ujar pernyataan tersebut, dikutip CNN.
Selandia Baru dikenal jarang mengalami penembakan, terutama setelah pengenalan undang-undang senjata yang ketat pada tahun 2019. Kejadian penembakan massal di Christchurch pada waktu itu menyebabkan undang-undang ketat yang mengatur kepemilikan senjata api dan mendapat persetujuan dalam waktu singkat.
Selandia Baru harus berduka atas tragedi penembakan ini sementara semangat menyambut Piala Dunia Wanita tetap tinggi. (lna)

Leave a Reply