
JoSS, JOGJA – Polda DIY berhasil menangkap dua pelaku pembunuhan disertai mutilasi terhadap seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Turi, Sleman. Kedua pelaku berinisial W, yang berasal dari Magelang, dan RD, yang merupakan warga dari jabodetabek, ditangkap dalam pelariannya di Bogor, Jawa Barat.
Setelah berhasil menangkap kedua pelaku, petugas Ditreskrimum Polda DIY juga berhasil mengungkap identitas korban, yang merupakan seorang mahasiswa asal Pangkal Pinang, Riau. Sebelumnya, korban dilaporkan hilang di Polsek Kasihan, Bantul, beberapa hari sebelum pembunuhan terjadi.
Korban ditemukan tewas dan tubuhnya dimutilasi di indekos milik salah satu pelaku di wilayah Triharjo, Sleman. Potongan tubuh korban kemudian dibuang di beberapa lokasi.
Hingga saat ini, keluarga korban masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait hasil autopsi. Sementara itu, kakak korban sudah berada di Sleman untuk memastikan hasil pemeriksaan polisi terhadap potongan tubuh korban.
Baca Juga: Empat Anggota Polisi Terlibat dalam Kasus Kematian Tahanan, Ditahan
Dugaan dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa korban, berinisial R, merupakan warga Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.
Kejadian ini mengguncang warga di daerah tersebut, dan pihak kepolisian akan terus melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap motif dan kronologi lengkap dari pembunuhan dan mutilasi ini.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah melakukan pendalaman terkait dugaan korban kasus pembunuhan dan mutilasi berinisial R, yang diduga adalah mahasiswa mereka. Redho Tri Agustian (20), warga Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, dilaporkan hilang sejak Selasa (11/7).
Dekan Fakultas Hukum UMY, Iwan Satriawan, menyatakan bahwa terdapat beberapa kecocokan yang menunjukkan bahwa korban mutilasi kemungkinan adalah Redho. Salah satunya adalah temuan jaket yang identik dengan milik Redho.
“Dari aksesoris yang digunakan, seperti jaket dan kemungkinan ada aksesoris lain, menjadi indikasi kuat bahwa tubuh-tubuh yang ditemukan adalah Redho,” kata Iwan di UMY, Kasihan, Bantul, DIY, Senin (17/7) malam.
Meskipun ada beberapa kecocokan, pihak kampus tidak dapat memastikan sepenuhnya karena bagian tubuh korban mengalami kerusakan. UMY telah intens berkomunikasi dengan Polda DIY sejak dua hari setelah laporan Redho hilang.
Sejak inisial korban mutilasi diumumkan pada Minggu (16/7) kemarin, UMY tidak serta merta mengambil kesimpulan sebelum dapat memastikan informasi tersebut secara langsung. Bahkan, pada hari yang sama, pihak kampus langsung mendatangi Polda DIY untuk memastikan apakah korban R adalah Redho atau bukan.
“Pegangan paling bisa dari petunjuk polisi, walaupun belum 100 persen, baru 60 persen, adalah aksesoris pakaian atau jaketnya,” tegas Iwan.
Meskipun demikian, pimpinan fakultas telah bertemu dengan keluarga Redho di RS Bhayangkara Polda DIY untuk menyampaikan ucapan belasungkawa.
Pada Senin malam, ratusan mahasiswa dan jajaran kampus berkumpul di depan Gedung AR Fachrudin UMY untuk menggelar acara doa bersama bagi Redho. Mereka berharap semoga Redho mendapatkan kelancaran setelah peristiwa ini dan amal solehnya diterima, serta memberikan kesabaran bagi orang tuanya dan keluarganya.
Para mahasiswa juga menekankan pentingnya penyelesaian kasus ini secara tuntas dan meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi atau menyebarkan informasi yang tidak valid mengenai motif di balik kepergian Redho.
Sebelumnya, sejumlah potongan tubuh manusia yang diduga merupakan korban mutilasi ditemukan di area Sungai Bedog, Bangunkerto, Turi, Sleman, DIY, pada Rabu (12/7) malam. (lna)

Leave a Reply