
JoSS, MAGELANG – Universitas Tidar (Untidar) Magelang, Jawa Tengah mengembangkan pariwisata di lahan Kledung lereng Gunung Sumbing. Pengembangan pariwisata ini sekaligus menjadi laboratorium keilmuan mahasiswa.
Rektor Untidar Sugiyarto mengatakan pengembangan wisata di lahan Kledung menjadi wisata edukasi sangat bagus dengan memanfaatkan fungsi internal Untidar. Dalam pengembangannya tentunya dibutuhkan disiplin ilmu sesuai bidang masing-masing.
“Kami memanfaatkan lintas program studi, yang mengelola ikan tetap butuh ahli perikanan, yang kelola anggrek tetap ahli pertanian, kemudian English camp dari prodi bahasa Inggris, tetapi yang mengemas dalam bentuk wisata adalah prodi pariwisata yang menghitung ekonominya fakultas ekonomi.
Untuk itu, lanjutnya pengembangan wisata alam di Kledung ini sekaligus latihan membangun budaya lintas bidang bagi mahasiswa. “Kami perlu membangun budaya lintas bidang, ini gagasan awal yang perlu eksperimentasi,” katanya, seperti dilansir dari Antara.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Untidar Suyitno mengatakan tahun ini pihaknya mengucurkan dana Rp2,5 miliar untuk pengembangan pariwisata di lahan Kledung yang merupakan hibah Pemkab Temanggung.
“Pada tahap awal ini kami menyediakan dana Rp2,5 miliar untuk fasilitas glamping dan lainnya,” kata di Magelang, Selasa (9/5/2023).
Di kawasan lahan bekas penambangan seluas lima hektare tersebut kini sudah ada kebun anggrek.
Ia mengatakan lokasi yang berada di lereng Gunung Sumbing tersebut menarik dari sisi pariwisata, meskipun tanahnya gersang, yaitu tanah bebatuan bekas penambangan.
“Tetapi kami ingin tata kemudian sebagian akan kami kelola agar tumbuh rumput selanjutnya akan ada kebun buah, kebun anggrek, peternakan kambing, kolam ikan, kemudian akan kami jadikan satu tempat penginapan berupa tenda kalau sekarang glamping. Pemandangannya indah di lereng gunung,” katanya.
Menurut dia nantinya kawasan ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas outbound, english camp dan lainnya. Ia menuturkan untuk bisa menanam rumput di lahan tersebut perlu ditimbun atau diurug dulu dengan tanah dengan ketebalan sekitar 30 centimeter.
Suyitno menyampaikan pada prinsipnya lokasi tersebut akan dijadikan fasilitas pariwisata dan juga fasilitas pendidikan untuk prodi pariwisata dan juga untuk pelatihan-pelatihan.
“Kebun anggrek yang sudah ada menjadi daya tarik kami, nantinya ada kebun buah, kolam ikan, ternak kambing, dan embung. Semua akan kami tata, pada prinsipnya lahan bekas galian itu akan kami buat seindah mungkin,” pungkasnya. (lna)

Leave a Reply