Sudah Sepekan Sejak Badai Gabrielle Landa Selandia Baru, 6.000 Warga Masih Hilang

Kerusakan Akibat Badai Gabrielle Selandia Baru
Kerusakan Kibat Badai Gabrielle Selandia Baru 17 February 2023 (Reuters)

JoSS, SELANDIA BARU – Lebih dari 6.000 orang di Selandia Baru masih belum ditemukan sejak badai Gabrielle yang menghantam wilayah itu pada Minggu (13/2/2023) sepekan yang lalu. Sementara itu korban tewas bertambah menjadi 11 orang dicatat pada Minggu (19/2/2023).

Seperti dilansir Reuters, selain korban tewas, lebih dari 6.000 orang masih dinyatakan hilang akibat hantaman Gabrielle di Pulau Utara.

Dua korban tewas terbaru ditemukan pada Minggu di Hawke’s Bay, lokasi terparah akibat terjangan topan. Perdana Menteri Chris Hipkins mengatakan korban tewas kemungkinan masih akan ditemukan lagi, karena 6.431 orang masih dinyatakan hilang.  Sementara 3.216 korban hilang dilaporkan selamat.

Gabrielle pertama kali menghantam Pulau Utara Selandia Baru pada 12 Februari kemudian menyusuri pantai timur hingga membuat kerusakan meluas. Hipkins menyebut terjangan Badai Gabrielle sebagai bencana alam terbesar Selandia Baru abad ini.

Menurut dia, kehidupan warga telah dijungkirbalikkan akibat bencana dahsyat ini tersebut dan pemulihan seperti gunung terjal yang di hadapan. Pernyataannya itu merujuk pada putusnya saluran telekomunikasi serta rusaknya infrastruktur jalan yang menghambat upaya penyelamatan ke berbagai daerah.

“Tingkat sebenarnya dari kehancuran dan kerugian menjadi lebih jelas setiap harinya,” kata Hipkins, dikutip dari Reuters.

Dia menambahkan aliran listrik untuk sekitar 28.000 rumah tangga masih putus. Sejauh ini 12 negara telah menawarkan bantuan untuk Selandia Baru, termasuk mengerahkan petugas untuk pemulihan korban.

Satu tim dari Fiji akan berangkat ke Selandia Baru dalam beberapa hari. Selain itu 27 personel darurat dari Australia ikut membantu pencarian.

Upaya pemulihan dan pembersihan berlanjut di Pulau Utara. Selain korban tewas, ribuan orang dilaporkan masih hilang. Polisi yakin banyak warga yang dilaporkan hilang tidak memiliki akses ke jaringan komunikasi, karena sekitar 62.000 properti tetap tanpa aliran listrik.

Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki kematian di wilayah Hawke’s Bay yang terpukul parah, di pantai timur Pulau Utara. Gabrielle menghantam Selandia Baru pada Minggu pekan lalu di wilayah paling atas Pulau Utara, sebelum menelusuri pantai timur, menyebabkan kerusakan yang meluas.

Badai menerjang kota-kota, menghanyutkan pertanian, jembatan dan ternak serta menyebabkan rumah-rumah yang terendam, dan membuat orang-orang terdampar di atap rumah.

Perdana Menteri Chris Hipkins pada Jumat menyebut Gabrielle sebagai bencana alam terbesar yang melanda Selandia Baru abad ini. Ia memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan akan meningkat karena para kru melakukan kontak dengan ratusan komunitas yang terputus.

Hampir 2.000 orang tetap berada di pusat-pusat evakuasi di Hawke’s Bay, sementara kemungkinan hingga 1.000 orang di wilayah tersebut masih berada di luar jangkauan layanan darurat, lapor New Zealand Herald.

Di sebelah utara Hawke’s Bay, di Tairwhiti Gisborne, pengawas kelompok Pertahanan Sipil Ben Green mengatakan “masih ada jalan panjang sebelum semua orang ditemukan, apakah kebutuhan mereka terpenuhi dan semua orang terhubung sekali lagi”.

“Kami fokus untuk mengamankan pasokan air yang dapat diandalkan, menjangkau orang-orang yang terisolasi dan membangun kembali koneksi telepon dan internet,” katanya.

Dua kamar mayat sementara telah didirikan di wilayah Hawke’s Bay, yang sebagian besar pedesaan tetapi mencakup kota Napier, Hastings, dan Wairoa. Bencana itu terjadi setelah kota terbesar di Selandia Baru, Auckland, bulan lalu dilanda hujan lebat yang memicu banjir, menewaskan empat orang. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*