Kenali Gejala Empty Sella Syndrome, Seperti Yang Dialami Ruben Onsu

Kenali Gejala Empty Sella Syndrome, Seperti Yang Dialami Ruben Onsu
Ruben Onsu (YouTube/Melaney Ricardo)

PRESENTER Ruben Onsu mengaku mengidap penyakit empty sella syndrome. Kondisi ini sempat membuat dirinya dilarikan ke ICU hingga dirawat pada beberapa waktu.

“Kemarin itu aku sudah MRI, jadi ada bercak-bercak putih di bagian otak A, dan yang kedua juga ada Empty Sella Syndrome,” kata Ruben, dikutip dari kanal YouTube Trans 7 Official.

“Jadi Empty Sella Syndrome ada beberapa tingkat, ada yang memang dia tidak kuat dalam suhu dingin. Ada juga yang penglihatannya makin lama kayak pakai kontak lens jadi dia nggak bisa lama,” lanjutnya.

Apa Itu Empty Sella Syndrome?
Dikutip dari laman National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), Jumat (22/7/2022), empty sella syndrome (ESS) merupakan gangguan yang melibatkan sella tusika, struktur tulang di dasar otak yang mengelilingi dan melindungi kelenjar pituitari (yang berada di dasar otak).

Terdapat dua jenis dari kondisi ESS, yaitu primer dan sekunder. ESS primer terjadi ketika cacat anatomi kecil di atas kelenjar pituitari, memungkinkan cairan tulang belakang mengisi sebagian atau seluruh sella tursika. Sedangkan ESS sekunder adalah hasil dari kemunduran kelenjar pituitari di dalam rongga setelah cedera, pembedahan, atau terapi radiasi.

Gejala Empty Sella Syndrome
Kebanyakan kasus ESS tidak memicu gejala tertentu. Namun, jika gejala ESS itu muncul, dapat berupa: Sakit kepala, Tekanan darah tinggi, Kelelahan, Impotensi (pada pria), Gairah seks rendah,
Tidak ada periode menstruasi atau tidak teratur (pada wanita) dan Infertilitas

Adapun Penyebab Empty Sella Syndrome
Adapun penyebab pasti dari ESS primer sampai saat ini masih belum diketahui. Kemungkinan terkait dengan cacar lahir di diafragma sellae, membran yang menutupi sella tursika.

 

Baca juga: 5 Makanan Ini Mengandung Serotonin yang Bisa Bikin Bahagia

Beberapa orang dilahirkan dengan robekan kecil di diafragma sellae, dapat menyebabkan CSF atau cairan serebrospinal bocor ke sella tursika. Meskipun begitu, para ahli tidak yakin apakah ini penyebab langsung dari empty sella syndrome atau hanya faktor risiko.

Sedangkan ESS sekunder bisa disebabkan oleh: Trauma kepala, Infeksi, Tumor hipofisis, Terapi radiasi atau pembedahan di area kelenjar pituitary. Kondisi yang berhubungan dengan otak atau kelenjar pituitari, seperti sindrom sheehan, hipertensi intrakranial, neurosarcoidosis, atau hipofisitis.

Siapa Saja yang Rentan Terkena?
Menurut National Organization for Rare Disorders, empty sella syndrome empat kali lebih banyak diidap oleh wanita dibandingkan pria. Kebanyakan wanita dengan penyakit tersebut adalah mereka yang lanjut usia dan memiliki penyakit komorbid, seperti obesitas dan tekanan darah tinggi.

Namun, sebagian besar kasus empty sella syndrome tidak terdiagnosis lantaran kurangnya gejala, sehingga sulit untuk menyebut apakah jenis kelamin, usia, ataupun komorbid yang menjadi faktor risiko sebenarnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*