

TANGGAL 1 Juni resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional. 1 Juni yang merupakan hari lahir Pancasila, kembali menjadi momentum digaungkannya kembali Pancasila, yang akhir-akhir ini di kalangan generasi muda serasa tersaingi bahkan cenderung terpinggirkan oleh berbagai sajian di media sosial ( medsos) yang karena saking beraneka ragam serta menariknya, kaum muda cenderung lebih memerhatikannya.
Sampiran Pancasila dalam kurikulum secara tidak utuh, menjadi pemicu pula. Demikian pula dengan upacara bendera disekolah utamanya saat pandemi covid-19 berlangsung.
Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, diharapkan sekaligus untuk membenahi, baik kurikulum serta kajian Pancasila secara mendalam, sekaligus dikaitkan dengan kondisi kekinian yang sebenarnya masih sangat relevan dengan makna serta hakekat Pancasila itu sendiri.
Pemanfaatan medsos untuk menggelorakan semangat Pancasila, pada moment peringatan hari lahirnya, tampak masif dan merambah ke berbagai medsos. Melalui lontaran semangat Pancasila sekaligus Nasionalisme, mudah-mudahan akan terus berlangsung, sehingga isi medsos yang terkait dengan Pancasila serta Nasionalisme dalam bentuk terapannya pada peristiwa kekinian, diharapkan akan lebih efektif, dibanding sekedar menghafal teks nya, meski hal itu tetap diperlukan, utamanya bagi para pemula.
Karena itu hal yang perlu kita renungkan serta lakukan bersama, dan tentu dikomandani oleh BPIP, adalah membuat Tim Medsos, untuk setidaknya menandingi sekaligus menetralisir,dampak negatif sajian medsos yang tak jarang isinya menyesatkan.
Literasi
Persoalan klasik yang segera harus dibenahi sebenarnya adalah membuat masyarakat melek komunikasi dan teknologi informasi. Ketidakmelekan atau iliterasi ini tampak secara dominan menyebabkann audience memilih mana isi medsos yang baik, serta mana yang isinya barangkali seolah menarik, namun ternyata menyesatkan.
Gerakan literasi yang akhir-akhir ini mengendor karena keterbatasan dana, perlu menjadi skala prioritas, karena sesuatu hal yang mustahil kalau harus menyetop teknologi serta komunikasi seperti yang dilakukan beberapa negara.
Kebijakan open sky policy yang sudah digaungkan tahun delapan puluhan, tentu tidak mungkin ditarik kembali.
Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan masyarakat, agar siap menyongsongnya, dengan membuatnya melek komunikasi dan media. Bila hal tersebut terjadi, niscaya masyarakat justru akan mampu menjadi komunikator penguat yang akan mampu menandingi pesan- pesan medsos yang menyesatkan, dengan konten menarik, sekaligus penuh dengan nuansa Pancasila dan Nasionalisme.
Penulis: Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si
Dosen Tetap Ilmu Komunikasi USM,
Dosen Ilmu Komunikasi UDINUS
Baca juga: Entitas Sumber Informasi

Leave a Reply