
VLADIMIR Putin menjadi salah satu sosok yang tengah ramai diperbincangkan. Tidak hanya soal keputusannya menginvasi Ukraina, Presiden Rusia ini memiliki tas kerja yang isinya tombol nuklir yang siap diluncurkan kapan saja.
Putin juga telah memerintahkan pasukan penangkal strategis untuk meningkatkan status siaga. Tujuannya untuk menyiagakan kekuatan pencegahan yang meliputi persenjataan nuklir negara.
Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki gudang senjata nuklir terbesar di dunia. Mereka memiliki sejumlah rudal balistik yang menjadi tulang punggung kekuatan pencegahan.
Jaringan TV Rusia sempat memberikan gambaran tas kerja presiden isinya bisa mengendalikan serangan nuklir. Hal ini disajikan di televisi secara rinci untuk pertama kalinya oleh Zvezda, saluran TV yang dijalankan oleh Kementerian Pertahanan Rusia.
Tas kerja disebut Cheget dalam bahasa Rusia berisi tombol nuklir itu diperlihatkan ke publik untuk pertama kalinya. Di dalam tas itu disebut berisi sistem seluler untuk mengendalikan serangan yang bisa memicu perang.
Hal tersebut dilakukan Putin setelah melihat reaksi global usai dirinya menginvasi Ukraina. Baru-Baru ini terungkap bahwa Putin bisa mengendalikan serangan nuklir melalui tombol dalam tas kerjanya.
Baca juga: Pertama Dalam Sejarah, Eropa dan Kanada Blokade Seluruh Penerbangan Dari Rusia
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan perintah operasi militer di wilayah Donbas yang terletak di timur Ukraina pada Kamis, (24/2/2022) lalu.
Sejumlah ledakan pun dilaporkan terjadi di ibu kota Ukraina Kiev dan di Kota Kharkiv tak lama usai Putin mengumumkan perintah operasi militer tersebut.
Hal itu pun langsung memicu reaksi global. Kurang dari empat hari setelah dimulai, invasi telah memicu respons politik, strategis, hingga ekonomi. Beberapa negara bahkan disebut memberikan ‘sanksi’ kepada Rusia.
Dalam sanksi ekonomi terkuat, Amerika Serikat dan Eropa mengatakan bahwa mereka akan mengusir bank-bank besar Rusia dari sistem pembayaran global utama SWIFT.
Melihat respons Barat, Putin memerintahkan militernya untuk menetapkan status ‘siaga khusus’ – level kewaspadaan tertinggi kepada pasukan penangkal strategis.
Pasukan penangkal (deterrence force) sendiri bertugas untuk mengalahkan musuh-musuh Rusia dengan berbagai jenis senjata, termasuk nuklir. Pasukan itu tergabung dalam Pasukan Ofensif Strategis (Strategic Offensive Force) dan Pasukan Defensif Strategis (Strategic Defensive Force).
Hal itu dilakukan Putin setelah melihat respon dan langkah-langkah dari Barat yang menurutnya sangat tidak bersahabat terhadap negaranya. Sehingga, hal itu semakin menimbulkan kekhawatiran global. (lna)

Leave a Reply