
JoSS, BLORA – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menggelontorkan dana sebesar Rp25 miliar untuk proyek perluasan apron atau tempat parkir pesawat di Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Kepala Satuan Bandara Ngloram, Abdul Rozaq, Rabu (16/2/2022) mengatakan anggaran itu khusus digunakan untuk kegiatan pembebasan lahan tanah yang luasnya mencapai 3,6 hektar,
“Anggaran tersebut digunakan untuk membebaskan 3,6 hektare (ha) lahan. Dan Alhamdulillah, dalam sosialisasi semua warga terdampak, menyatakan setuju,” katanya, dilansir dari detikjateng.com.
Dia menuturkan jika tidak ada hambatan dalam pembebasan lahan tersebut, diupayakan pembayaran kepada pemilik lahan bisa direalisasikan pada April tahun ini. “Kami minta, warga bisa menyiapkan dokumen pendukung untuk proses ini,” katanya.
Lebih lanjut pria asal Jombang tersebut menjelaskan, lahan yang akan dibebaskan tersebut digunakan pemenuhan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan. “Karena, saat ini jarak dari pagar pengaman bandara existing ke tepi apron (tempat parkir pesawat) hanya sekitar 9 meter,” tandasnya.
Kepala Desa Ngloram, Diro Beni Susanto, menjelaskan, ada 20 warga terdampak yang mengikuti sosialisasi rencana pembebasan lahan. “Hak milik lahan sebagian besar milik warga Desa Ngloram. Sebagian kecil hak milik warga desa tetangga,” ujarnya.
Dia berharap proses pembebasan lahan itu tidak akan mengalami hambatan. Selain itu dia juga meyakini besaran ganti rugi yang ditetapkan tim appraisal juga cukup layak. “Monggo dibicarakan kekeluargaan sehingga tidak timbul permasalahan di lapangan. Sehingga bisa mengambil keputusan yang saling menguntungkan,” katanya.
Baca juga: Bandara Halim Perdanakusuma Ditutup, Begini Skenario Perpindahan Operasional Penerbangan
Untuk diketahui, Bandara Ngloram telah diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 17 Desember 2021 lalu. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan Bandara Ngloram memiliki banyak peminat.
Hal itu, kata Budi, tampak dari jumlah penumpang maskapai Citilink yang telah beroperasi kembali mulai 26 November 2021. Pesawat tersebut melayani penerbangan rute Jakarta (Bandara Halim Perdanakusuma) menuju Bandara Ngloram, sebanyak dua kali seminggu tiap hari Senin dan Jumat dan selalu penuh.
“Saat ini sudah diterbangi oleh Citilink dua kali seminggu dan penuh. Peminatnya banyak sekali,” ujarnya, saat peresmian.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri yang kerap disapa BKS itu melaporkan bahwa saat ini Bandara Ngloram memiliki landas pacu (runway) sepanjang 1500 meter x 30 meter, taxiway 142 meter x 23 meter, Apron 90 meter x 60 meter dan terminal Penumpang seluas 3.526 meter persegi.
Saat ini, lanjutnya, bandara tersebut baru mampu didarati pesawat ATR 72. Namun tidak menutup kemungkinan akan terus dikembangkan hingga bisa melayani pesawat jenis lain. “Jadi kemungkinan berikutnya bisa dilakukan [pengembangan] lebih jauh,” ucap Budi.
Lebih jauh dia menuturkan, Bandara Ngloram memiliki luas keseluruhan kurang lebih 27 hektar dengan terminal penumpang seluas 3.600 m2 yang dapat memuat kapasitas hingga 210.000 penumpang per tahun.
Sebelumnya, bandara ini dimiliki oleh PT Pertamina yang dibangun untuk menunjang operasional perusahaan dan sudah tidak beroperasi lagi sejak 1984. Kemudian, dia melanjutkan, dilakukan penyerahan kepada Kementerian Perhubungan sehingga dilakukan pembangunan pada 2019 dan selesai satu bulan yang lalu.
Beroperasinya Bandara Ngloram sebagai bandara komersial merupakan salah satu bentuk sinergi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan operator penerbangan, dalam mewujudkan konektivitas dari dan menuju Blora.
Bandara Ngloram dapat menjadi alternatif konektivitas dan aksesibilitas bagi masyarakat di Jawa Tengah seperti Blora, Bojonegoro dan sekitarnya. Adanya bandara diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah yang dikenal menjadi pusat aktivitas industri perminyakan dan industri bisnis lainnya. (lna)

Leave a Reply