JoSS, UKRAINA – Pejabat Menteri Darurat Rusia, Alexander Chupriyan menyampaikan lebih dari 61 ribu penduduk Donbas, Ukraina, mengungsi ke Rusia pada Senin (21/2/2022), ketika ketegangan antara pasukan pemerintah dan kelompok separatis meningkat.
“Berdasarkan hasil kerja semalam, jumlah warga Donbas yang tiba di Rusia bertambah menjadi 61.000 orang,” kata Chupriyan, seperti dikutip TASS.
Ia juga mengatakan, sembilan kereta api yang mengangkut penduduk Donbas dari Rostov ke wilayah lain Rusia, tiba pada siang hari. “Oleh karena itu, penempatan pengungsi berkembang,” ucap dia.
Warga Rusia sendiri tak keberatan menampung pengungsi dari negara yang disebut saudaranya itu. Menurut survei pemerintah, VTsIOM, mayoritas warga Rusia mendukung penerimaan pengungsi.
Moskow Times melaporkan, jajak pendapat itu menunjukkan 78 persen warga Rusia mendukung keputusan pemerintah untuk menerima pengungsi, sementara 13 persen menolak.
Jika dilihat dari cakupan wilayah, setengah dari 85 wilayah Rusia bersedia menampung penduduk Donbas. Namun, enam wilayah keberatan akan risiko gelombang pengungsi.
Kawasan ini memang sudah mengantisipasi gelombang pengungsi sejak pekan lalu, usai pemimpin Donetsk dan Luhansk memerintahkan perempuan, anak-anak, dan lansia menyeberangi perbatasan ke Rusia demi keamanan.
Para pemimpin itu menyatakan akan mengevakuasi 700 ribu warga sipil karena ada serangan dan usaha dari pasukan Ukraina merebut wilayah itu dengan paksa.
Baca juga: Sejumlah Maskapai Internasional Tangguhkan Penerbangan Rute Ukraina
Ketegangan di wilayah yang dikuasai kelompok separatis itu meningkat belakangan ini. Mereka dan pasukan Ukraina saling tuduh melakukan serangan.
Konflik di wilayah itu memang kerap membara usai Rusia mencaplok Crimea pada 2014 lalu. Situasi makin tegang usai Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengakui kedaulatan Donetsk dan Luhansk pada Senin (21/2/2022).
Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengancam bakal memutus hubungan diplomatik dengan Rusia usai Presiden Vladimir Putin mengakui kemerdekaan wilayah yang dikuasai separatis, Donetsk dan Luhansk.
“(Saya) menerima permintaan dari Kementerian Luar Negeri untuk mempertimbangkan masalah pemutusan hubungan antara Ukraina dengan Federasi Rusia,” ujar Zelensky sebagaimana dikutip AFP, Selasa (22/2).
Ia lalu berkata, “Saya sekarang akan memeriksa dan mengerjakan masalah ini, segera setelah konferensi pers,” katanya dilansir dari CNNIndonesia.com.
Menurut Zelinsky, pengakuan Putin atas dua wilayah itu merupakan langkah pertama Rusia untuk melancarkan agresi militer ke Ukraina yang sudah direncanakan.
Zelensky memperingatkan bahwa tindakan Rusia ini dapat memicu sanksi dari negara-negara Barat. Ia mendesak agar sanksi itu mencakup penghentian proyek jalur pipa gas Nord Stream 2 yang menyalurkan gas Rusia ke Jerman melalui Laut Baltik.
“(Saya meminta) penghentian total proyek Nord Stream 2,” ucap Zelensky.
Penggarapan jalur pipa itu memang sudah selesai, tapi hingga kini belum beroperasi. Kanselir Jerman, Olaf Scholz, tak keberatan dengan sikap Ukraina yang ingin menangguhkan proyek tersebut, meski ia sempat keberatan.
Konflik Rusia dan Ukraina kian runcing setelah Putin mengakui sepihak kemerdekaan Donetsk dan Luhansk pada Senin (21/2/2022). (lna)

Leave a Reply