
JoSS, SEOUL – Korea Utara dilaporkan kembali menembakkan dua senjata nuklir rudal balistik ke arah pantai timur Korea pada Kamis (27/1/2022). Militer Korea Selatan menyatakan ini adalah yang keenam kalinya Korea Utara melepaskan rudalnya pada sepanjang bulan ini.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan mereka telah mendeteksi peluncuran senjata nuklir, yang diasumsikan dua rudal balistik, sekitar pukul 8 pagi waktu setempat. Lokasi penembakan nuklir di sekitar Hamhung, wilayah pantai timur Korea Utara.
Kantor berita Kyodo mewartakan rudal-rudal tersebut diperkirakan mendarat di luar wilayah ZEE Jepang.
Dilansir dari CNNIndonesia, sebelumnya pada Selasa, 25 Januari 2022, Korea Utara menembakkan dua rudal ke arah pantai timur dari bandara Sunan di ibukota Pyongyang. Rudal menempuh jarak 380 kilometer dengan ketinggian maksimum 42 kilometer
Sedangkan pada awal bulan lalu, Korea Utara melakukan uji coba taktik rudal, uji coba kemampuan dua rudal hipersonik dan manuver rudal tersebut. Tindakan itu dilakukan di tengah ketegangan atas serangkaian uji coba senjata nuklir oleh negara itu.
Korea Utara sebelumnya sudah mengatakan akan meningkatkan pertahananya melawan Amerika Serikat dan melanjutkan kegiatannya yang selama ini untuk sementara terhenti. Rangkaian uji coba senjata nuklir oleh Korea Utara itu telah menuai kecaman dari Amerika Serikat dan Jepang.
Bukan hanya itu, Dewan Keamanan PBB segera menggelar rapat, terkait permasalahan ini. PBB sebelumnya sudah menjatuhkan sanksi ke Korea Utara karena melanggar resolusi, yang melarang uji coba – uji coba rudal balistik.
Baca juga: Presiden Korsel Moon Jae-in Bertekad Berdamai Dengan Korut, Sebelum Akhir Masa Jabatannya
Pemerintah Jepang juga melaporkan peluncuran rudal balistik tersebut. Jepang mengutuk uji coba itu dan menyebutnya sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan kawasan.
Nobuo Kishi, menteri pertahanan Jepang, mengatakan rudal balistik itu telah mendarat di laut dekat pantai timur Korea Utara. “Sudah jelas bahwa tujuan peluncuran rudal Korea Utara adalah untuk meningkatkan teknologi mereka,” katanya kepada wartawan.
“Peluncuran berulang rudal balistik Korea Utara merupakan masalah besar bagi masyarakat internasional, termasuk Jepang,” ujar Kishi.
Komando Indo-Pasifik militer Amerika Serikat mengatakan pihaknya menilai bahwa peluncuran rudal Korea Utara tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat atau sekutunya. Namun AS menyoroti dampak destabilisasi dari program senjata terlarang Korea Utara.
Perserikatan Bangsa-bangsa telah melarang Pyongyang yang memiliki senjata nuklir untuk melakukan uji senjata balistik. Namun pembicaraan denuklirisasi telah berhenti sejak 2019 ketika pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan mantan Presiden AS Donald Trump gagal. Penyebab kegagalan adalah Korea Utara menuntut keringanan sanksi.
Kementerian luar negeri Korea Utara pada hari Jumat mengecam AS karena menjatuhkan sanksi baru akibat dilakukannya uji tersebut. Korea Utara menuduh Washington melakukan pendekatan konfrontatif.
AS juga mendesak PBB untuk mengambil tindakan lebih tegas terhadap Korea Utara atas uji coba senjata putaran terakhir. Sejumlah pengamat menyatakan Kim Jong Un kembali ke teknik lama. Kim menggunakan peluncuran senjata dan ancaman untuk mengekstraksi konsesi dari AS dalam setiap keterlibatan di masa mendatang. (lna)

Leave a Reply