JoSS, SOLO – Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk berkoordinasi terkait rencana revitalisasi Keraton Solo.
Salah satunya ialah Panggung Songgobuwono, menara keraton yang menjadi ikon dari kerajaan Mataram Islam itu. Tampak jendela dari kayu sudah rusak. Terlihat juga tanaman liar tumbuh di bangunan kuno itu.
Gibran mengatakan revitalisasi itu sesuai arahan dari Paku Buwono VIII. “Ya revitalisasi, sesuai arahan langsung dari sinuhun (Paku Buwono VIII),” katanya, seperti dilansir dari Antara.
Ia mengatakan nantinya revitalisasi tersebut akan berjalan secara bertahap mengingat untuk kerusakan Keraton Solo sendiri cukup banyak. “Saya sih pengennya cepet-cepet aja. Mangkunegaran sudah, ini bertahap,” katanya.
Ia mengatakan salah satu titik yang paling mendesak untuk direvitalisasi adalah akses masuk Gladak atau Alun-Alun Selatan Solo. “Nanti kami rapatkan dulu,” katanya.
Sedangkan mengenai anggaran revitalisasi, dikatakannya, berasal dari pemerintah pusat. Meski demikian, belum dapat dipastikan besaran anggaran yang akan digunakan untuk revitalisasi tersebut.
“Anggaran dari pemerintah pusat, belum ada perkiraan. Bu Dirjen (Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) juga baru masuk, difoto-foto,” katanya.
Baca juga: Seluruh Objek Wisata di Solo Dibuka, Masyarakat Diminta Tidak Lengah
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Diana Kusumastuti mengatakan masih sebatas melihat kondisi dalam keraton.
“Saya melihat dulu aja kira-kira keratonnya seperti apa, yang rusak-rusak seperti apa, itu aja dulu. Nanti kelanjutannya nanti aja ya jawabannya,” katanya.
Diana mengatakan saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan sejumlah pihak. Karena keraton termasuk bangunan cagar budaya, maka pihaknya juga berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
“Ini masih rencana, kita masih koordinasi dengan Pak Wali (Gibran), keraton dan kementerian kebudayaan. Masih kita kaji, nanti kita gambar dulu, DED juga,” kata Diana, sebagaimana dikutip dari detik.com.
Sementara itu, Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, mengatakan revitalisasi terakhir ialah tahun 2017 dan selesai di tahun 2018. Bangunan terakhir yang direvitalisasi ialah bagian museum.
“Terakhir itu museum, selesai tahun 2018. Yang lain belum, masih memerlukan kajian, kemudian naskah akademis. Apalagi ini cagar budaya, menurut UU Cagar Budaya kan harus ada kajian,” kata Dipokusumo.
Terkait kondisi Songgobuwono, Dipokusumo menyebut bangunan itu menjadi salah satu prioritas. Namun dia menilai revitalisasi harus dilakukan secara total, meskipun harus dilaksanakan bertahap.
“Itu (Songgobuwono) salah satu skala prioritas. Karena itu salah satu identitas kota, memiliki nilai pengertian sejarah secara filosofis dan sebagainya. Makna dan nilainya Panggung Songgobuwono itu adalah berkaitan dengan makna kehidupan,” katanya.
“Beliau semua (Kementerian PUPR dan Pemkot Solo) memahami bahwa kondisi ini memang semuanya harus secara total. Tapi mestinya ada tahapan-tahapan tertentu, ada skala prioritas, tinggal nanti mana yang bisa langsung ditangani,” pungkasnya. (lna)

Leave a Reply