Pakar Sebut Pekalongan, Semarang dan Demak Akan Lebih Dulu Tenggelam Dibandingkan Jakarta

Tongkat bambu dan jaring digunakan sebagai penghalang di desa Tambakrejo, yang terkena dampak kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah, di Semarang, Jawa Tengah di Indonesia. (Foto: arabnews.com)

JoSS, SEMARANG – Pakar geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, memprediksi tiga wilayah di Jawa Tengah (Jateng), yakni Pekalongan, Semarang, dan Demak akan tenggelam akibat penurunan permukaan tanah.

Bahkan ahli geodesi ITB itu menyebut Semarang dan Pekalongan akan tenggelam lebih dulu dibanding Jakarta karena penurunan tanah atau land subsidence yang masif.  Isu tenggelamnya Jakarta yang sempat disebut Joe Biden dalam pidatonya, bukan satu-satunya yang jadi perhatian Indonesia.

Karena Pekalongan, Semarang dan Demak menjadi daerah yang mengalami penurunan drastis dibandingkan Jakarta. “Semarang, Demak dan Pekalongan saat ini mengalami penurunan tanah sangat tinggi yaitu 15-20 cm. Kondisi ini mirip dengan Jakarta tahun 2007-2011,” ucap Heri, seperti dilansir dari detik.com.

Hal senada juga diungkapkan, Pakar lingkungan dan tata kota dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Dr Milla Karmilah, menilai prediksi yang menyebutkan tiga wilayah Jateng, yakni Pekalongan, Semarang, dan Demak bakal tenggelam cukup beralasan.

Hal ini dikarenakan ketiga wilayah itu mengalami penurunan permukaan tanah yang parah, yakni 10 sentimeter (cm) setiap tahunnya.

“Mungkin prediksi itu bisa jadi. Apalagi di sepanjang pantura dari Pekalongan hingga Demak itu penurunan permukaan tanahnya cukup masif, sekitar 10 sentimeter [cm] per tahun,” ujar Milla, seperti dilansir dari Semarangpos.com, Rabu (4/8/2021).

Milla mengaku penurunan permukaan tanah di pesisir pantura Jateng disebabkan berbagai faktor. Mulai dari ekstraksi air tanah hingga pembangunan kawasan industri di wilayah pesisir.

“Kalau ini [penurunan tanah] jadi masalah, tentunya Pemerintah Provinsi [Pemprov] Jateng sudah mulai mengambil berbagai kebijakan untuk mengatasi. Tapi, sejauh ini kan belum,” ujar Milla.

Baca juga: Muka Tanah Terus Turun, Wilayah Pesisir Kota Semarang Mulai Ditinggalkan Investor

Milla mengaku penuruan tanah di wilayah pesisir Jateng adalah masalah klasik dan memberi dampak bagi warga di kawasan tersebut setiap tahun. Hal itu bisa dilihat dari banjir yang melanda di kawasan pesisir pantai utara Jateng, seperti Pekalongan, Demak, dan Semarang setiap tahunnya.

Pemerintah sebenarnya memiliki solusi mengatasi banjir itu dengan membangun tanggul laut yang juga bagian dari pembangunan Tol Semarang-Demak. Meski demikian, Milla menilai pembangunan tanggul itu bukan solusi yang tepat.

“Pembangunan tanggul itu hanya satu dari sekian banyak upaya. Pembangunan tanggul hanya bisa mengatasi masalah di satu kawasan. Sementara yang mengalami penurunan tanah banyak,” ujar Milla.

Menurut Milla, solusi yang tepat mengatasi penurunan permukaan tanah adalah dengan mulai membatasi pembangunan industri di kawasan pesisir dan juga ekstraksi air tanah yang masif.

“Pembangunan kawasan pesisir harus ramah lingkungan. Itu solusi yang tepat. Apalagi kita lihat kan industri di pesisir itu kan kebanyakan manufaktur, sehingga membutuhkan pengambilan air tanah dalam jumlah besar. Itu menjadi penyebab land subsidence,” tuturnya.

Kepala Bidang (Kabid) Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Heru Sugiharto, mengatakan pernyataan pakar tersebut akan menjadi masukan dan bahan bagi pemerintah guna mengambil kebijakan untuk mengatasi persoalan land subsidence atau penurunan tanah.

Menurut Heru, berdasarkan data yang diperolehnya dari berbagai lembaga riset, penurunan tanah di Semarang mencapai lebih dari 10 sentimeter (cm) setiap tahunnya.

Penurunan tanah itu terutama terjadi di wilayah pesisir Semarang bagian timur dan barat. Untuk wilayah pesisir Semarang bagian barat, penurunan tanah mencapai 2-5 cm per tahun. Sedangkan untuk wilayah pesisir Semarang bagian timur, penurunan tanah yang terjadi justru lebih parah, yakni lebih dari 10 cm.

Sementara untuk wilayah pesisir pantai utara Pekalongan, berdasarkan data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sejak 2015-2020, terjadi penurunan tanah 0,07 meter – 0,11 meter setiap tahunnya.

Menurutnya penurunan tanah, disebabkan oleh berbagai faktor yakni pengambilan air tanah secara masif, dan faktor faktor alam seperti transgresi dan regresi yang membuat air laut semakin naik ke daratan, maupun sedimentasi endapan kuarter. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*