
JoSS, SEMARANG – Sejumlah wilayah di Kota Semarang khususnya di daerah pesisir terus mengalami penurunan muka tanah atau land subsidence. Hal itu membuat bekas kawasan perekonomian seperti Pelabuhan Tanjung Emas, Bandarharjo, Johar, Kemijen dan Boom Lama mulai ditinggalkan investor.
Data para ahli telah memproyeksikan permukaan air laut akan naik 25 hingga 50 cm tahun 2050. Pada 2100 mendatang, air laut akan menggenangi sebagian besar kota pesisir di Indonesia.
Pakar Tata Kota dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Bambang Setyoko menyebutkan, penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah pesisir Kota Semarang mengakibatkan sebagian investor memindahkan bisnisnya ke wilayah lain.
Bambang menerangkan, menurut data yang dia ketahui, penurunan tanah di wilayah utara Semarang, seperti Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Bandarharjo, Johar, Kemijen dan Tambaklorok bisa mencapai 8cm tiap tahunnya.
Angka tersebut lanjutnya tergolong besar jika tidak segera dicarikan solusi mengatasi penurunan tanah.
Wilayah tersebut, kata dia dulunya merupakan roda perekonomian yang ada di Kota Semarang. Namun, keadaan tanah yang tidak stabil membuat banyak investor berfikir ulang.
Baca juga: Pajak Restoran dan Air Tanah di Semarang Terus Digenjot
“Sekarang bisa dilihat beberapa perusahaan besar mulai pindah dari kawasan pesisir Semarang. Menurutnya, kawasan pesisir sudah tidak layak untuk dijadikan tempat berbisnis,” katanya, seperti dikutip dari Ayosemarang.com, Jumat (26/7).
Menurutnya sejumlah perusahaan lainnya lebih memilih memindahkan bisnisnya ke Kawasan Industri Kendal, di Mranggen, Mijen dan juga Gunung Pati.
Adapun penyebab amblesnya beberapa kawasan di Kota Semarang itu antara lain karena menjamurnya bangunan-bangunan, seperti hotel, mal, shoping center. Dia menilai untuk pengambilan air tanah memang harus dikendalikan.
“Kalau air tanah hanya untuk keperluan rumah tangga sih masih tidak apa-apa. Tapi kalau untuk industri yang menyedot sampai 2.000 liter perdetik ya air tanah tidak akan ada sirkulasinya. Pengambilan air tanah yang tidak terkendali menyebabkan air yang ada di dalam tanah kosong,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya belum bisa mengukur berapa dalam tanah yang mengalami land settlement setiap tahunnya. Hal itu disebabkan perbedaan struktur tanah yang ada di masing-masing kawasan. “Yang pasti setiap tahunnya tanah di tempat-tempat tadi ada yang ambles,” katanya. (lna)

Leave a Reply