JoSS, JAKARTA – Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nyoman Suayarna mengatakan pihaknya akan menggunakan fly ash bottom ash (FABA) sebagai bantalan untuk menaikkan elevasi di konstruksi Jalan Tol Semarang—Demak.
Nyoman menambahkan bahwa secara spesifik pihaknya akan menggunakan bottom ash di proyek Tol Semarang—Demak. “Di situ [sekitar proyek Tol Semarang—Demak] ada [pembangkit listrik] PLN. Produknya [FABA] agak banyak. Daripada menumpuk tidak termanfaatkan, ya dimanfaatkan sehingga [biaya konstruksi] bisa lebih ekonomis,” katanya, seperti dikutip dari bisnis.com.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, FABA merupakan hasil pembakaran batu bara dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta kegiatan lainnya yang tidak lagi dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun.
Dia menuturkan, meski akan menerapkan di Tol Semarang—Demak, Suaryana belum berencana untuk menggunakan FABA di proyek jalan nasional lainnya. Alasannya, penggunaan FABA masih lebih banyak disorot dari persoalan lingkungan, bukan penguatan konstruksi jalan nasional.
Konstruksi Tol Semarang—Demak terbagi menjadi dua seksi, yakni Seksi 1 Semarang/Kaligawe—Sayung (10,39 kilometer), dan Seksi 2 Sayung—Demak (16,31 Kilometer.
Adapun, konstruksi Seksi 1 akan dilakukan oleh pemerintah, sedangkan konstruksi Seksi 2 oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak. Pengerjaan Seksi 1 baru akan dimulai pada 2022 dan dijadwalkan rampung pada 2024.
Baca juga: Solusi di Tengah Pandemi, UNS Ciptakan Alat Penghancur Limbah Domestik dan Medis
Sementara itu, perkembangan konstruksi yang dilakukan BUJT Tol Semarang—Demak telah mencapai 41.63 persen pada Semester I/2021, dan dijadwalkan selesai pada Juni 2022. Total investasi yang dibenamkan pada proyek tersebut sebesar Rp15,3 triliun, dengan biaya pembebasan lahan yang mencapai Rp6,8 triliun.
Keberadaan tol Semarang—Demak dinilai akan meningkatkan konektivitas di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Selain itu, jalan tol tersebut juga dapat menghubungkan kawasan-kawasan strategis, seperti pelabuhan, bandara, kawasan industri, dan kawasan pariwisata, khususnya Demak sebagai kawasan wisata religi.
Sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah di Jawa Tengah untuk menyiapkan program relokasi lahan mangrove yang berada di sekitar pembangunan Seksi 1 Tol Semarang—Demak ruas Semarang—Sayung.
Secara total, akan ada tiga lokasi kawasan mangrove yang akan direlokasi. Menurutnya Basuki berpendapat, kawasan mangrove dapat membantu membentuk penghalang alami terhadap gelombang badai dan banjir.
Pasalnya, sedimen sungai dan darat terperangkap oleh akar yang melindungi daerah garis pantai dan memperlambat erosi. (lna)

Leave a Reply