Antibodi Vaksin Sinovac Turun Setelah 6 Bulan, Jangan Kawatir!

Ilustrasi (Foto: deseret.com)

JoSS, SEMARANG – Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya penelitian bahwa antibodi dalam tubuh yang dihasilkan vaksin Sinovac akan turun setelah enam bulan menerima dosis kedua.

Dia tak menampik bahwa peneliti di Cina mengungkap efek  vaksin Sinovac memudar setelah enam bulan penyuntikan dosis kedua. “Dalam jurnal, enam bulan (antibodi) turun, tapi tidak usah khawatir.  Begitu antibodi turun setelah enam bulan, akan tetap ada sel memori dalam tubuh penerima vaksin,” ujar Hakam, Senin (30/8/2021), dikutip dari Semarangkota.go.id.

Dia menuturkan, sel memori ini akan meningkatkan produktivitas antibodi ketika ada virus masuk. “Jadi, tidak hilang sama sekali,” ucapnya.

Hakam menjelaskan, hingga saat ini memang belum ada petunjuk teknis (juknis) mengenai vaksinasi dosis ketiga atau vaksinasi booster bagi masyarakat umum.

Dalam juknis, vaksinasi booster hanya diperuntukkan bagi tenaga kesehatan. Hal ini karena tenaga kesehatan berhubungan langsung  dengan pasien Covid-19 setiap hari.

Namun demikian, dia mengimbau masyarakat tak usah khawatir apabila vaksinasi sudah melebihi enam bulan. Jika terpapar, antibodi tetap dapat melakukan fagusitosis terhadap virus tersebut.

“Makanya, teman-teman di luar kesehatan masih ada WFH. Tujuannya, ketika terpapar bisa istirahat. Antibodi bisa mencaplok virus. Virus akan mati dan jumlahnya akan zero lagi,” tambahnya.

Baca juga: Program Vaksin Booster Berbayar Digelar Tahun Depan, Tarifnya Rp100 Ribu

Di sisi lain, Hakam juga menerangkan, jarak waktu pemberian dosis pertama dan kedua untuk vaksin Sinovac dan Moderna adalah 28 hari. Sedangkan, Astrazeneca 12 pekan atau tiga bulan. Pfizer hanya 21 hari.

Hanya saja, vaksin Pfizer belum dapat masuk ke Semarang karena penyimpannya sangat rigid. “Itu juknis jarak waktu pemberian vaksin. Kalau misal lebih dari itu apakah vaksinnya perlu diulang? Tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, peneliti di Cina mengungkap dari dua kelompok sampel yang diteliti, hanya terdapat 16,9 persen dan 35,2 persen yang masih terdeteksi memiliki antibodi setelah enam bulan vaksinasi dosis kedua. Namun, studi tersebut menyebut suntikan ketiga atau booster memiliki efek penguat yang baik.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyebut, studi tersebut belum bisa menjadi rujukan karena belum ada publikasi ilmiah.

“Terkait penurunan ini, belum ada publikasi ilmiah tentang vaksin yang ada menjadi tidak efektif, dan WHO juga masih merekomendasikan semua jenis vaksin,” tuturnya, belum lama ini.

Ia mengatakan sejauh ini belum ada rencana memberikan suntikan ketiga kepada masyarakat maupun pejabat publik hingga presiden. “Sampai saat ini booster hanya akan diberikan kepada tenaga kesehatan karena risiko keterpaparannya yang sangat tinggi,” tutur Nadia.

Pemerintah menggunakan vaksin Moderna sebagai booster kepada tenaga kesehatan. Vaksin buatan perusahaan Amerika Serikat tersebut diklaim hampir 95 persen efektif melindungi dari Covid-19 dibanding vaksin lain, seperti vaksin Sinovac. Program vaksinasi ketiga bagi nakes ini mulai disuntikkan sejak medio Juli lalu dan menyasar 1,47 juta tenaga kesehatan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*