Menteri Penerangan di Era Presiden Soeharto, Harmoko Meninggal Dunia

Kolase Menteri Penerangan di Era Presiden Soeharto, Harmoko (Foto: pikiran-rakyat.com/kumparan.com)

JoSS, JAKARTA – Mantan Menteri Penerangan era Presiden Soeharto, Harmoko meninggal dunia, Minggu (4/7/2021). Kesehatan Harmoko diketahui sempat memburuk dua tahun silam. Dia sempat menjalani perawatan di RS Medistra karena infeksi paru pada 2018.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun telah meninggal dunia Bpk. H. Harmoko bin Asmoprawiro pada hari Minggu 4 Juli jam 20:22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto. Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau dan mohon doanya insya Allah beliau husnul khotimah. Aamiin YRA,” ujar Ketua Fraksi Golkar MPR Idris Laena.

Kabar duka tersebut juga disampaikan Ketua DPP Golkar Dave Laksono. “Innalillahi wa innailaihi rojiun telah meninggal dunia Bpk. H. Harmoko bin Asmoprawiro pada hari Minggu 4 Juli pada jam 20:22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto,” katanya, kepada wartawan, Minggu (4/7/2021).

Dave minta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Mantan Menteri Penerangan Era Presiden Soeharto itu. “Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau dan mohon doanya insya Allah beliau husnul khotimah,” katanya.

Semmentara itu, Kepala RSPAD Letjen TNI Albertus Budi Sulistya saat dikonfirmasi mengatakan mendiang Harmoko menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 20.22 WIB.

“Baru [masuk IGD]. Jadi hitungannya menit. Langsung ke igd sudah penurunan kesadaran kemudian kita coba lakukan tindakan medis. Tetapi, tuhan berkehendak lain. jadi memang singkat sekali di IGD,” katanya, Minggu malam.

Dilansir CNNIndonesia, semasa hidupnya Harmoko, selain sebagai politikus Golkar yang pernah menjadi menteri penerangan di era Orde Baru–selama kurun waktu 1983-2007–ia juga pernah menjadi Ketua DPR.

Ia dikenal sebagai mantan wartawan yang kemudian berkarier politik di bawah naungan Golkar, lantas menjadi menteri penerangan selama tiga periode kabinet pembangunan di bawah komando Presiden Soeharto. Ia menjabat di kabinet pembangunan IV, V, hingga sebagian VI atau dari 1983 hingga 1997.

Baca juga: Seperti Hendak Pamit, Ki Manteb Sempat Perbaiki Seperangkat Wayang Kulit Miliknya Sebelum Wafat

Sebagai wartawan, Harmoko menjalani karier tersebut selama 23 tahun sejak lulus SMA dan bekerja mula di harian Merdeka pada awal 1960an.

Selanjutnya, ia pindah di harian Angkatan Bersenjata pada 1964. Hanya berselang setahun, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur ini berpindah lagi di harian API yang dikenal sebagai media yang “Pancasilais” pada waktu itu.

Pada saat yang sama, Harmoko juga menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko. Hingga akhirnya pada 1970, Harmoko bersama Jahja Surjawinata, Tahar S Abiyasa, dan Pansa Tampubolon menerbitkan surat kabar berbasis di Jakarta, Pos Kota.

Semasa menjabat sebagai Menteri Penerangan, Harmoko adalah pencetus gerakan Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) yang disiarkan televisi nasional, TVRI.

Selain itu, selama menjadi Menteri Penerangan Harmoko merupakan ‘kepanjangan tangan’ Presiden Soeharto melakukan pembredelan atas media-media masa dengan alasan demi menjaga stabilitas negara.

Beberapa di antara yang pernah kena ‘tangan dingin’ Harmoko adalah surat kabar Sinar Harapan, majalah Tempo, tabloid Detik, dan majalah Editor.

Karier politik Harmoko berakhir sebagai Ketua DPR/MPR yang mengangkat Soeharto sebagai presiden pada 1998 silam. Namun, Harmoko yang membisikkan agar Soeharto kembali maju jadi presiden pada 1998, dia pula yang meminta sang penguasa Orba itu untuk mundur pada Mei 1998.

Menteri Negara Urusan Khusus dalam kabinet Pembangunan VI masa kerja 17 Maret 1993 – 14 Maret 1998
Menteri Penerangan dalam kabinet Pembangunan VI masa kerja 17 Maret 1993 – 14 Maret 1998. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*