Lebih Dari 2.000 Penduduk Dievakuasi Akibat Kebakaran Hutan di Oregon

Beberapa kebakaran hutan terus berkobar di Oregon, karena sekitar 2.000 penduduk telah mengungsi akibat kebakaran tersebut (Foto: newsweek.com)

JoSS, OREGON – Lebih dari 2.000 penduduk dievakuasi akibat kebakaran hutan besar yang terjadi di kawasan bagian selatan Oregon pada Senin (19/7). Pemerintah setempat mengatakan kebakaran yang diduga terjadi akibat angin panas dan kering atau biasa disebut gelombang panas tersebut telah menghancurkan 67 rumah.

Mengutip dari Reuters, kobaran api tersebut telah menghanguskan hampir 123.020 hektare di sekitar kawasan Hutan Nasional Fremont-Winema, atau hampir sama dengan setengah luas daratan Rhode Island.

Juru Bicara Departemen Kehutanan Oregon Marcus Kauffman mengatakan sekitar 2.200 personel pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang disebut dengan Bootleg, sementara 2.100 penduduk dievakuasi.

Komandan Pemadam Kebakaran Joe Hessel juga mengatakan mereka berupaya memadamkan api tersebut sepanjang hari dan malam.

“Api ini adalah tantangan nyata, dan kami melihat pertempuran berkelanjutan di masa mendatang,” kata Joe Hessel.

Berdasarkan data Pusat Kebakaran Antar Badan Nasional di Boise, Idaho, Bootleg ditemukan di 80 kebakaran hutan yang secara kolektif telah menghanguskan 1,2 juta hektare 13 negara bagian. Lebih dari 19,6 ribu petugas pemadam kebakaran menghadapi api tersebut.

Melansir dari CNNIndonesia, serentetan kejadian itu menandai awal musim kebakaran yang lebih berat dari biasanya. Hal itu bertepatan dengan rekor panas yang membakar sebagian besar wilayah dalam beberapa pekan terakhir dan diduga menjadi penyebab atas ratusan kematian.

Para ilmuwan mengatakan meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran hutan sebagian besar disebabkan kekeringan yang berkepanjangan dan meningkatnya serangan panas berlebihan yang merupakan gejala perubahan iklim.

Tak hanya Oregon, sebagian wilayah Amerika Serikat, seperti Washington dan Kanada, juga diterpa gelombang panas sejak pekan lalu.

Sebelumnya, pada awal bulan ini setidaknya 1.000 orang dievakuasi setelah satu kota di Kanada hangus akibat kebakaran yang dipicu gelombang panas ekstrem dalam sepekan belakangan. Seorang anggota parlemen Kanada, Brad Vis, mengatakan bahwa gelombang panas tersebut menyebabkan kebakaran di berbagai titik di Kota Lytton, British Columbia.

“[Lytton] mengalami kerusakan struktural dan 90 persen kota itu terbakar, termasuk pusat kota,” ujar Vis, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (1/7).

Sekitar 250 warga Lytton lantas dievakuasi pada Rabu (30/6), sehari setelah kota itu mencatat rekor suhu terpanas di angka 49,6 derajat Celsius. Pada malam harinya, warga yang tinggal di sekitar bagian utara Lytton juga dievakuasi dengan bantuan militer.

Baca juga: Lebih dari 1.300 Orang Dilaporkan Hilang Usai Banjir Bandang Yang Menerjang Jerman dan Belgia

“Sehari belakangan merupakan waktu paling menyengsarakan bagi penduduk Lytton. [Pasukan bersenjata] siap membantu warga melangkah ke tahap selanjutnya,” ujar Menteri Pertahanan Kanada, Harjit Sajjan.

Secara keseluruhan, Provinsi British Columbia sudah melaporkan 62 titik kebakaran dalam 24 jam belakangan.

“Saya menekankan bahwa risiko kebakaran sangat ekstrem saat ini di hampir setiap bagian British Columbia,” tutur Pemimpin British Columbia, John Horgan. Selain British Columbia, peringatan gelombang panas juga sudah dirilis untuk warga Alberta, Saskatchewan, Manitoba, dan sebagian Kawasan Barat Daya.

Provinsi British Columbia memang terkena dampak gelombang panas paling parah. Pada Selasa lalu, setidaknya 230 orang meninggal dunia, diduga karena dampak kenaikan suhu akibat gelombang panas.
Tak hanya Kanada, sebagian wilayah Amerika Serikat, seperti Washington dan Oregon, juga diterpa gelombang panas sejak pekan lalu.

Reuters melaporkan bahwa kawasan Washington, Oregon, sebagian Idaho, Wyoming, dan California berada di bawah peringatan panas yang berlebihan karena suhu melonjak 6-7 derajat Celcius di atas rata-rata.

“Peristiwa ini kemungkinan akan menjadi salah satu gelombang panas paling ekstrem dan berkepanjangan dalam catatan sejarah Inland Northwest,” demikian pernyataan Layanan Cuaca Nasional AS (NWS). (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*