Kasus Harian Tembus 12 Ribu, Bagaimana Agar Tak Tertular Covid-19 Varian Baru?

Ilustrasi

PENAMBAHAN kasus harian positif corona di Indonesia kembali melejit hingga tembus 12.624 kasus pada Kamis (17/6/2021) hanya beberapa pekan sebelumnya di angka 3.000 kasus harian.

Dengan penambahan 12.624, total kumulatif kasus COVID-19 yang ditemukan di RI hingga hari ini sebanyak 1.950.276 kasus. Sementara itu, kasus aktif COVID-19 sampai hari ini sebanyak 125.303 kasus.

Pemerintah juga melaporkan kasus sembuh Corona. Hari ini terdapat 7.350 pasien telah sembuh dari Corona, sehingga kasus sembuh hingga saat ini 1.771.220. Selain itu, sebanyak 277 pasien Corona meninggal dunia hari ini. Jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 53.753 orang.

Kasus infeksi SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19, terus meningkat belakangan ini. Motornya adalah empat varian baru virus itu yang sejauh ini sudah diidentifikasi lebih mudah menginfeksi dan menyebar.

Tak terkecuali di Indonesia. Hasil pengurutan gen yang dilakukan telah menemukan tiga dari empat varian itu dalam sampel spesimen Covid-19 di tanah air. Ketiganya adalah Covid-19 varian Alpha atau B.1.1.7; varian Beta atau B.1.351; dan varian Delta atau B.1.617.

Lalu bagaimana cara agar tidak tertular dari penyakit dan infeksi virus-virus tersebut? “Baik varian Delta, Alpha, atau lainnya intinya adalah 5 M,” ujar Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, Selasa(15/6/2021).

Dilansir dari tempo.co, Amin menjelaskan, 5 M merupakan protokol kesehatan sebagai strategi pencegahan penularan Covid-19 yang terdiri dari memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

Jadi, Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menegaskan, bahwa tindakan pencegahannya tak berbeda antar varian SARS-CoV-2 yang satu dengan yang lainnya. Alasannya, tidak bisa membedakan virus apa yang ada beredar di lingkungan masing-masing.

Baca juga: Terawan: Butuh 8 Hari Vaksin Nusantara Hadapi Covid-19 Varian Delta

“Kita tidak tahu persis, virus yang ada di lingkungan atau seseorang terinfeksi varian apa. Jadi harus menerapkan prinsip yang sama (5M),” tutur Amin.

Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardyanto, menerangkan, bermutasinya virus didorong oleh selection pressure, semacam cara virus menghindar dari tekanan. Wujud tekanan itu bisa karena terapi obat-obatan, cara pencegahan (protokol kesehatan), sampai vaksinasi.

Untuk obat-obatan, kata dia, sejauh ini belum ada yang spesifik dan definitif. Namun, untuk protokol kesehatan, masyarakat juga sudah tahu dan telah dijalankannya, yaitu 5 M. “Semakin lengkap paket protokol kesehatannya, makin kecil peluang virus bisa masuk ke tubuh,” kata Tonang, Senin 14 Juni 2021.

Virus yang lolos akan menghadapi sistem imun tubuh. Ini adalah benteng pertahanan alami tubuh. “Artinya menjaga imun tubuh juga penting,” katanya menambahkan.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrian Syam, menekankan Covid-19 varian Delta yang lebih mudah dan cepat menginfeksi daripada varian lain. Varian ini meningkatkan risiko terjadinya hilang pendengaran, nyeri ulu hati, dan mual.

Jika seseorang yang terinfeksi Covid-19 varian Delta bersin atau berbicara, maka virus akan lebih cepat berpindah ke orang lain. “Jadi tetap jalankan protokol kesehatan ketat,” tutur Ari yang juga Dekan FKUI itu, belum lama ini. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*