JoSS, LONDON – Penelitian Public Health England (PHE) di Inggris menyebutkan satu dosis vaksin Covid-19 dapat mengurangi penularan virus corona hingga setengahnya.
Mereka yang terinfeksi setidaknya tiga pekan setelah vaksinasi memiliki kemungkinan antara 38 persen hingga 49 persen lebih kecil untuk menularkan virus ke orang yang tinggal serumah, dibandingkan dengan mereka yang belum divaksinasi, menurut studi tersebut.
Orang-orang yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah mereka yang telah menerima satu dosis vaksin Pfizer atau AstraZeneca, dua vaksin pertama yang diizinkan untuk digunakan di Inggris.
Peter English, seorang pensiunan konsultan di bidang pengendalian penyakit menular, mengatakan kepada Sky News bahwa temuan itu sangat menggembirakan.
“Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa vaksinasi akan mencegah orang terinfeksi. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun orang yang telah divaksinasi akhirnya terinfeksi, mereka kemungkinannya jauh lebih kecil untuk menular, dan untuk menularkan infeksinya kepada orang lain,” tuturnya, dilansir dari Antara.
Studi itu, yang belum melewati peninjauan sejawat, melibatkan lebih dari 57.000 orang yang tinggal di 24.000 rumah tangga terkait orang yang telah divaksinasi. Mereka diperbandingkan dengan hampir 1 juta kontak orang yang belum divaksinasi.
Berdasarkan data resmi terbaru, lebih dari 33,8 juta orang telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19.
Sementara itu, seperempat orang dewasa di Inggris telah mendapat dosis penuh vaksin seiring program vaksinasi di negara itu diperluas hingga mencakup warga berusia 42 tahun ke atas.
Baca juga: Upaya AstraZeneca Menjual Vaksin di AS Kembali Terkendala, Setelah Insiden Pencampuran Bahan Vaksin Milik J&J
Sebagaimana diketahui, Inggris akan membeli sekitar 60 juta atau lebih dosis vaksin Covid-19 buatan Pfizer- BioNTech. Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan, langkah tersebut diambil untuk mempercepat program vaksinasi akhir tahun ini.
Negeri Ratu Elizabeth itu, telah memesan total 100 juta dosis vaksin Pfizer. Vaksin ini merupakan salah satu dari tiga vaksin yang disetujui dan digunakan di negara tersebut. Menurutnya, dosis tersebut telah diamankan untuk mendukung program vaksinasi cepat yang dimulai musim gugur mendatang.
“Kami akan bekerja untuk percepatan vaksinasi. Sekitar 60 juta dosis akan digunakan, bersamaan dengan (vaksin) yang lainnya, sebagai bagian dari percepatan program vaksinasi kami tahun ini. Sehingga kami dapat melindungi langkah yang telah kami buat,” tutur Hancock dilansir dari Channel News Asia, Kamis (29/4/2021).
Pada Rabu kemarin, otoritas kesehatan Inggris mengatakan detail dari program percepatan ini masih dalam pengerjaan.
Sebelumnya, regulator obat-obatan Inggris (MHRA) menegaskan tidak ada masalah keamanan seputar vaksin virus korona. Mereka juga melaporkan tidak ada peradangan jantung akibat vaksin ini setelah adanya insiden tersebut di Israel. “MHRA mengetahui laporan miokarditis yang diselidiki di Israel,” kata mereka.
“Berdasarkan pengalaman dan pemantauan keamanan kami di Inggris, saat ini tidak ada masalah keamanan akibat vaksin yang terkait miokarditis,” imbuh juru bicara MHRA.
Kementerian Kesehatan Israel menyatakan sedang menyelidiki sejumlah kasus radang jantung terhadap beberapa orang yang disuntik vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech.
Koordinator Tanggap Pandemi Israel, Nachman Ash, mengatakan bahwa studi pendahuluan menunjukkan ada sekitar puluhan orang yang mengalami radang jantung (miokarditis), di antara lebih dari 5 juta orang yang divaksinasi, terutama setelah dosis kedua. (lna)

Leave a Reply