Patung Ki Nartosabdo Resmi Jadi Ikon Baru Kawasan Kota Lama

Patung Ki Nartosabdo Kota Lama (Foto: instagram semarangpemkot)

JoSS, SEMARANG – Patung seniman dalang dan karawitan asal Klaten, Ki Nartosabdo dibangun di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Pemuda atau Hotel Metro serta tak jauh dari  alun-alun, Kota Semarang.

Patung itu diresmikan pada Selasa (30/3/2021) sebagai penghargaan agar masyarakat mengingat kebesaran sang dalang yang sudah namanya sudah mendunia ini. Patung tersebut terbuat dari tembaga, setinggi 1,7 meter dengan penyangga 3,5 meter dengan penyangga.

Didesain oleh Yehana SR dan dikerjakan oleh seniman patung Sugito. Dalam proses pembuatannya diinisasi oleh tokoh asal Semarang Jaya Suprana yang pernah nyantrik atau menjadi murid Ki Nartosabdho.

Dalam peresmian yang dilakukan oleh Sekda Kota Semarang Iswar Aminudin, Jaya Suprana diwakili oleh Direktur Utama Jamu Jago Ivana Suprana. Hadir pula putra Ki Nartosabdho Jarot Sabdhono dan Danang.

Menurut Yehana yang juga sebagai koordinator proyek, patung ini dibuat karena rasa hormat dan kecintaan Jaya Suprana  kepada gurunya, Ki Narto Sabdo. Selain itu juga sebagai wujud mencintai Kota Semarang dimana Jaya Suprana dibesarkan.

”Patung ini dibiayai oleh pak Jaya Suprana. Sebelumnya juga dibangun patung batu di TBRS pada 1997,” jelasnya.

Baca juga: Makin Eksotik, Stasiun Semarang Tawang Kini Ada Patung Bung Karno Setinggi 17 Meter

Tinggi patung sekitar 1,7 meter dengan kaki-kakinya sekitar 3,5 meter. Biaya pembuatan patung yang beratnya sekitar 100kg ini sekitar Rp 200 juta dan dikerjakan selama satu bulan.

Jaya Suprana dalam rilis yang dikirim menyatakan, dirinya tergerak untuk membangun patung ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan karena  pernah belajar pada Ki Narto Sabdo.
Ia menyatakan rasa terimakasihnya atas izin yang diberikan Walikota Semarang untuk pembangunan monumen Ki Nartosabdo tersebut

“Kami berterimakasih kepada Bapak Wali Kota Semarang yang berkenan mengizinkan pendirian monumen mahabudayawan Ki Nartosabdo yang kebetulan juga guru saya dalam bidang filsafat musik jawa dan pewayangan,” ujar dia.

Jaya Suprana pun menegaskan komitmennya untuk mengusulkan Ki Nartosabdo sebagai pahlawan nasional. “Peresmian monumen Ki Nartosabdo merupakan langkah awal perjalanan panjang warga Semarang bersama seluruh warga Indonesia menobatkan Ki Nartosabdo sebagai pujangga musik menjadi pahlawan nasional,” jelasnya.

Ki Nartosabdo meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun. Dia adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini yang juga murid sang seniman, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan belum tergantikan sampai saat ini.

Karya-karya Ki Nartosabdo antara lain cerita-cerita gubahan seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba. Semua itu ia dapatkan karena banyak belajar sendiri, tidak seperti dalang lain yang pada umumnya lahir dari keturunan dalang pula, atau ada pula istilah dalang kewahyon (mendapat wahyu).

Selain sebagai dalang ternama, Ki Narto juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu atau gendhing, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prahu Layar, Ngundhuh Layangan, Aja Diplèroki, dan Rujak Jeruk. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*