Makin Eksotik, Stasiun Semarang Tawang Kini Ada Patung Bung Karno Setinggi 17 Meter

Kolase Patung Bung Karno Stasiun Tawang (Foto: awal.id/ayosemarang)

JoSS, SEMARANG – Ada yang baru di area Stasiun Semarang Tawang. Berdirinya patung Bung Karno setinggi 17 meter di polder depan Stasiun Semarang Tawang menambah eksotik pemandangan di kawasan Kota Lama Semarang ini.

Humas PT KAI DAOP 4 Semarang Krisbiyantoro mengatakan, pembangunan plaza patung Bung Karno yang menghabiaskan dana sekitar Rp7 miliar kini sudah selesai. Proses selanjutnya, tambah dia adalah normalisasi dan pembersihan area Polder agar dapat berfungsi dengan baik sebagai tempat penampungan air di area Kota Lama.

Dia menjelaskan, proyek penataan kawasan stasiun ini terdiri dari tiga paket pekerjaan pembangunan. Yakni pembangunan plaza patung Bung Karno, pembangunan masjid stasiun 1000 jamaah dan pembangunan gate in gate out.

“Pembangunan yang menghabiskan dana sekitar Rp7 miliar. Anggarannya merupakan investasi PT KAI (Persero) pada 2019. Kami berharap penataan stasiun ini dapat menambah keindahan di seputar area Kota Lama. Ini wujud dukungan PT KAI kepada Pemerintah Kota Semarang,” katanya dilansir dari sindonews.com.

Lebih jauh Krisbiyantoro menjelaskan, proyek ini mulai dilaksanakan pada Juni 2020. Plaza patung Bung Karno didisain dan di pahat oleh seorang seniman asal Bali yang berdomisili di Bandung, Ketut Winata. Didirikan dtengah Polder mengahadap ke arah Selatan.

Baca juga: PT KAI Luncurkan Lokomotif CC 201 Dengan Livery Vintage, Lokomotif Disel Pertama di Indonesia

“Ini sangat bagus dan instagrameble untuk view berfoto. Latar belakangnya Stasiun Semarang Tawang sebagai ikon Kota Lama. Tangan Bung Karno menunjukan jari ke atas menggambarkan nilai semangat, tegas dan menjunjung tauhid keesaan kepada Yang Kuasa,” ucapnya.

Stasiun Tawang adalah objek daya tarik wisata yang tak boleh diliwatkan saat seseorang berkujung ke Kota Semarang. Stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api swasta bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) itu memiliki sederet catatan sejarah menarik.

Sloth Blauwboer adalah seorang arsitek dari Belanda yang merancang Stasiun Tawang. Pada tanggal 1 Juni 1914, Stasiun Tawang resmi beroperasi. Sebelumnya, tahun 1911, putri kepala teknisi NISM Anna Wilhelmina van Lennep meletakkan batu pertama pembangunan stasiun kereta api itu.

Stasiun Tawang dibangun dengan alasan Stasiun Semarang—stasiun yang beroperasi sebelum Stasiun Tawang—mulai ramai digunakan sebagai jalur perdagangan dan penumpang.

Pada tahun 1867, NISM telah membangun rel kereta api antara Tanggung-Kemijen. Bukan hanya itu, pihak NISM juga menambahkan jalur kereta api ke daerah Jogja dan Solo yang pada masa itu disebut sebagai Vorstenlanden yang secara harfiah bermakna “wilayah-wilayah kerajaan”.

Dengan dibangunnya beberapa jalur jalan besi tersebut, kereta api lintas Semarang, Solo, dan Jogja semakin ramai digunakan. Kereta api juga mengangkut komoditas bisnis perkebunan dari kawasan Vorstenlanden yang saat itu menguntungkan pihak NISM.

Sejak saat itu, Stasiun Semarang menjadi lebih ramai dan pengelolanya sibuk mengatur jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api. Apalagi, lokasi Stasiun Semarang yang selalu dilanda banjir rob. NISM akhirnya memutuskan untuk membangun stasiun baru bernama Stasiun Tawang. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*