Layanan Kesehatan di India Kolaps, Kasus Baru Lebih dari 300 Ribu Dengan 2 Ribu Kematian/Hari

Seorang pria yang mengenakan APD menunggu untuk memindahkan jenazah yang meninggal karena infeksi virus Covid-19 dari ambulans di tengah pembakaran tumpukan kayu mati lainnya di sebuah krematorium di Delhi pada 17 April (Foto: londonnewstime.com)

JoSS, NEW DELHI – Sistem layanan kesehatan di India kolaps setelah dihantam gelombang besar penyebaran virus corona sejak pertengahan Maret lalu. India pada Kamis (22/4/2021) melaporkan 314.835 kasus Covid-19 harian, dengan jumlah kematian 2.104 dalam sehari.

Ramanan Laxminarayan, direktur Center for Disease Dynamics, Economics and Policy di New Delhi mengatakan negaranya kehabisan lahan kuburan, rumah sakit penuh, dan keluarga yang putus asa meminta bantuan di media sosial untuk mendapatkan tempat tidur dan obat-obatan.

“Segalanya di luar kendali,” katanya dilansir dari CNN.

“Tidak ada oksigen. Tempat tidur rumah sakit sulit ditemukan. Tidak mungkin mendapatkan tes. Anda harus menunggu lebih dari seminggu. Dan hampir setiap sistem yang dapat rusak dalam sistem perawatan kesehatan telah rusak,” imbuhnya.

India melaporkan 314.835 kasus Covid-19 harian, melampaui kenaikan satu hari tertinggi sebelumnya di dunia dari 297.430 kasus dari Amerika Serikat pada bulan Januari, dikutip dari Reuters, 22 April 2021.

Total kasus India sekarang mencapai 15,93 juta, sementara kematian naik 2.104 menjadi total 184.657, menurut data kementerian kesehatan India.

Perdana Menteri India Narendra Modi menyatakan pandemi COVID-19 yang terus memburuk telah membuat sistem kesehatan nasional kelimpungan. Terutama, kata ia, dalam hal ketersediaan oksigen, tempat perawatan di rumah sakit, serta obat-obatan. Walau begitu, ia belum terpikir untuk menerapkan lockdown COVID-19 secara nasional.

Dikutip dari kantor berita Al Jazeera, Modi menyebut lockdown adalah langkah terakhir untuk mengendalikan pandemi COVID-19 di India. Untuk saat ini, ia menyakini pandemi masih bisa ditangani dengan cara konvensional. Hal tersebut mulai dari penyediaan oksigen, obat-obatan, serta ruang perawatan tambahan.

Baca juga: Kematian Akibat Covid-19 Capai 1.761 Orang/Hari, India Hadapi Krisis Kesehatan Terbesar

“Situasinya masih terkendali beberapa pekan lalu. Sekarang gelombang kedua pandemi COVID-19 menyerang seperi badai. Pemerintah pusat dan negara bagian, termasuk swasta, berjuang bersama untuk meningkatkan persediaan dan distribusi oksigen medis,” ujar Modi.

Modi melanjutkan, meski dirinya belum berencana untuk menerapkan lockdown nasional, ia meminta warga untuk tetap bertahan di rumah. Menurutnya, itu salah satu langkah yang bisa diambil untuk menghindari pandemi COVID-19. Selain itu, Modi juga meminta warga untuk tidak panik ataupun menyebarkan kepanikan lewat berita-berita yang tidak benar.

“Kita harus menyelamatkan negeri ini dari lockdown. Saya membujuk negara bagian untuk menggunakan lockdown pada saat-saat terakhir saja dan fokuskan perhatian pada pengendalian di tingkat mikro,” ujar Modi.

Menurut laporan Al Jazeera, lockdown masih berlaku terbatas di India. Hanya beberapa wilayah saja yang menerapkannya. Salah satunya adalah Delhi, ibu kota dari India, di mana lockdown diterapkan untuk sepekan terdepan sejak Senin kemarin. Lockdown itu sendiri diterapkan untuk menekan penyebaran varian baru virus COVID-19 serta memberikan kelonggaran terhadap rumah sakit setempat.

Menurut keterangan pemerintah setempat, rumah sakit di Delhi hanya memiliki cadangan oksigen yang cukup untuk 8-24 jam pemakaian. Jika rumah sakit di Delhi, baik swasta maupun negeri, tak kunjung mendapat suplai oksigen baru, mereka khawatir situasinya akan kian buruk. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*