Seruan Aksi Pembangkangan Sipil di Myanmar Meningkat Usai Kudeta Militer

Petugas medis di Rumah Sakit Umum Yangon pada hari Rabu melakukan penghormatan tiga jari, memprotes kudeta yang menggulingkan pemimpin terpilih Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters/washingtonpost.com)

JoSS, MYANMAR – Seruan aksi pembangkangan sipil di Myanmar meningkat pada Rabu (3/1), hari ketiga kudeta militer dan penahanan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi. Dokter dan tenaga medis di sejumlah rumah sakit di seluruh negeri mogok kerja.

Diketahui, Militer memegang kendali setelah kudeta yang membuat Aung San Suu Kyi ditahan pada Senin (1/2). Tentara dan mobil lapis baja kembali ke jalan-jalan kota besar. Meski kudeta belum ditanggapi oleh protes besar, namun tanda-tanda kemarahan publik dan rencana untuk melawan mulai terlihat.

Dokter dan tenaga medis di sejumlah rumah sakit di seluruh negeri mengenakan pita merah dan meninggalkan semua pekerjaan non-darurat untuk memprotes kudeta tersebut.

“Kami hanya menerima pemerintah yang kami pilih,” kata kepala rumah sakit di distrik Gangaw Aung San Min, kepada AFP.

Sejumlah tim medis memposting gambar di media sosial yang mengenakan pita merah dan memberikan salam tiga jari, simbol gerakan protes yang digunakan oleh aktivis pro-demokrasi di Thailand.

Kelompok sipil mengatakan setidaknya pekerja medis dari 70 rumah sakit di 30 kota di seluruh Myanmar mogok kerja untuk ikut turun ke jalan memprotes kudeta militer.

“Kami menolak mematuhi perintah apa pun dari rezim militer tidak sah yang menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati pasien kami yang sedang dirawat,” tulis pernyataan Kelompok Sipil Myanmar melalui unggahan di Facebook.

Baca juga: Inilah Min Aung Hlaing, Jenderal Myanmar Pengkudeta Aung San Suu Kyi

Aktivis mengumumkan kampanye mereka di grup Facebook yang disebut “Gerakan Pembangkangan Sipil” yang telah memiliki lebih dari 150.000 pengikut dalam waktu 24 jam setelah dibuat.

Sementara itu warga di kota terbesar Yangon memukul panci dan wajan, serta membunyikan klakson mobil pada Selasa malam setelah seruan protes digaungkan di media sosial.

Junta militer resmi berkuasa di Myanmar setelah angkatan bersenjata Tatmadaw menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan para pemimpin sipil lainnya dalam kudeta yang berlangsung pada Senin (1/2).

Dilansir dari CNNIndonesia, kudeta berlangsung setelah militer menolak hasil pemilu yang dianggap curang. Tatmadaw menuding ada setidaknya 8 juta pemilih palsu yang terdaftar dalam pemilu November lalu.

Beberapa jam setelah penahanan pejabat, Tatmadaw mengumumkan status darurat militer selama satu tahun melalui stasiun televisi mereka, Myawaddy TV.

Dalam pengumuman itu, militer juga menyatakan kekuasaan pemerintah Myanmar telah diserahkan kepada Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing. Militer juga telah mencopot puluhan menteri dan pejabat pemerintah era Suu Kyi.

Tatmadaw pun telah menunjuk sedikitnya 11 mantan jenderal untuk mengisi kabinet di antaranya posisi menteri keuangan, menteri kesehatan, menteri informasi, menteri luar negeri, menteri perbatasan, dan menteri imigrasi perbatasan, dan menteri dalam negeri. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*