Fase Erupsi, Gunung Merapi Gugurkan Lava Pijar 9 Kali Dalam 6 Jam

Gunung Merapi erupsi | Foto: kompas.com

JoSS, SLEMAN – Gunung Merapi terpantau makin aktif dengan menggugurkan lava pijar sebanyak 9 kali dalam kurun waktu 6 jam, Kamis (7/1). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan fase erupsi telah dimulai.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida melalui keterangan resminya di Yogyakarta menuturkan guguran lava yang teramati pada periode pengamatan pukul 00:00-06:00 WIB itu meluncur ke arah Kali Krasak.

Selain guguran lava pijar, BPPTKG juga mencatat 21 kali gempa guguran di gunung itu dengan amplitudo 4-34 mm dan durasi 16-76 detik, 26 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-5 mm dan durasi 9-42 detik, 70 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 3-25 mm dan durasi 5-10 detik.

Berikutnya, 13 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 40-75 mm dan durasi 12-29 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 3-5 mm dan durasi 116-139 detik.

Baca juga: Aktivitas Merapi Meningkat Signifikan, Ratusan Warga Datangi Barak Pengungsian

Sementara itu, hasil pengamatan visual menunjukkan asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan tinggi 100 meter di atas puncak kawah.

Cuaca di gunung itu berawan dan mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dengan suhu udara 14-20 derajat Celsius, kelembaban udara 72-90 persen dan tekanan udara 565-685 mmHg.

BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak. Untuk penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.

BPPTKG meminta pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

Hanik menjelaskan  Gunung Merapi telah memasuki fase awal erupsi sejak 31 Desember 2020 yang ditandai munculnya api diam hingga fenomena guguran lava pijar dari puncak yang terlihat pertama kali pada 4 Januari 2021 malam.

Baca juga: Status Tanggap Darurat Bencana Merapi Kembali Diperpanjang

“Dari satelit juga menginformasikan gundukan yang diduga itu adalah material baru,” papar Hanik dalam jumpa pers virtual, pada Selasa (5/1).

Hanik memperkirakan, fase awal erupsi Merapi ini sekaligus menjadi awal indikasi proses intrusi magma yang masih akan terjadi. Perkiraan tersebut berdasarkan data seismik dan deformasi yang tinggi.

“Ini agak berbeda dengan tahun 2006 yang begitu menjelang muncul kubah lava, deformasi sudah berhenti,” sambungnya.

Hanik juga menyampaikan bahwa erupsi eksplosif masih mungkin terjadi setiap saat. Meski pihaknya memprediksi letusannya tak akan lebih besar dari erupsi 2010.

Namun demikian, pihaknya belum menaikkan status Merapi dari siaga ke awas. Sebab, peningkatan status gunung berapi itu didasarkan pada ancaman bahaya erupsi terhadap penduduk.

Sementara dari peristiwa yang terjadi di gunung Merapi, luncuran lava pijar belum mencapai jarak yang membahayakan penduduk.

Baca juga: Sumber Tekanan Magma Merapi Berada di Kedalaman 1,3 KM, Artinya Apa?

Gunung Merapi sendiri mulai memuntahkan lava pijar berkali-kali, sejak muncul gundukan yang diduga kubah lava baru di lava 97 puncak gunung tersebut.

Berdasarkan Laporan Hasil Pengamatan periode 5 Januari 2021, dari pukul 18.00 – 24.00 WIB, gunung berketinggian 2.968 mdpl itu telah empat kali memuntahkan guguran lava pijar dengan intensitas kecil ke arah kali Krasak.

Jarak luncur maksimal sekitar 400 meter dari puncak. Selain itu juga terdengar dua kali suara guguran dengan intensitas sedang.

BPPTKG mengimbau agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, DIY, serta Pemkab Magelang, Boyolali, dan Klaten, Jawa Tengah mulai menyiapkan mitigasi bencana akibat letusan gunung berapi di perbatasan DIY – Jateng tersebut. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*